Beranda > Hasil Pemikiran, Pengalaman, Refleksi dan Berpikir > (Curhat) Musik Saya adalah Saya

(Curhat) Musik Saya adalah Saya

kali ini izinkan saya tidak menulis motor dulu, ini tentang hobi saya yang lain: musik

Orang yang paling selektif soal musik yang pernah saya kenal adalah diri saya sendiri.

Sebagai pemuda, musik yang saya dengarkan bukanlah yang lazim berseliweran di jagad televisi dan radio. Hape saya diisi dengan album Casiopea, Rush, God Bless dan masih banyak musisi-musisi yang dianggap fosil bagi generasi sekarang. Hal yang sama muncul di playlist WMP komputer saya yang isinya Jazz, Prog Rock, Pop Kreatif, dan.. Keroncong!!!

Bagi saya, apa yang ada di koleksi musik adalah cerminan dari pribadi seseorang. Bagi orang yang menggemari musik “terancam punah”, mengoleksi musik era lawas adalah monumentasi dari semangat yang pernah muncul di permukaan. Gerakan hippies di 60an akhir, art rock di 70an semuanya butuh totem untuk eksistensi mereka beberapa dekade di belakang.

Hal ini menyenangkan juga membangkitkan gairah. Bayangkan anda mendengarkan kembali rekaman Ebiet G. Ade lantas membayangkan perjalanan imajiner menuju padang rumput. Musik folk dengan lirik puitis Ebiet adalah pemacu visual yang menggairahkan, membangkitkan naluri imajinasi anda.

Gelombang Tren

Buat saya, teman-teman di kampus yang mendengarkan K-Pop, boysband (dan girlsband???) adalah panutan yang keren. Musik dari negeri gingseng itu menjadi refrensi gaya hidup dan tren. Tidak sedikit yang tadinya emoh menjadi ikut-ikutan (ingat kasus boysband SMASH??).

Tetapi entah mengapa saya adalah sosok yang imun akan eksistensi musik-musik semacam itu. Bahkan jauh sebelum ini dimana F4 meraja, saya merasa tidak “klik” dengan keberadaan mereka. Saya tetap saja bersikukuh dengan alunan “Insan Sesat”-nya God Bless di headset saya.

Bicara soal insan sesat, apakah saya adalah manusia sesat? Alienisasi saya terhadap musik-musik populer saat ini membuat saya menjadi insan yang perlu dikembalikan ke asal? Atau mungkin gelombang tren itulah yang mengalienisasi saya?

Semuanya soal seleksi

Seleksi saya terhadap musik berkualitas adalah mutlak. Tidak selamanya oldies saya anggap musik bagus. Musik cengeng di era 80an saya hindari jauh-jauh, persoal lagu keroncong-pun saya pilih yang terbebas dari elemen pop dan organ tunggal.

Memang akhirnya semua kembali ke persoalan selera. Tetapi soal selera menjadi bagian yang butuh perjuangan juga saat saya berusaha menemukan cara yang tepat untuk mencerna “Larks Tongues in Aspic”-nya King Crimson. Saya percaya akan “Aquired Taste” menaungi musik saya saat ini, butuh pembelajaran untuk mengapresiasi musik secara utuh.

Barangkali sampai saya mati saya akan tetap dianggap sebagai penikmat karya-karya jadul. Tak mengapa sebab apresiasi saya terhadap musik yang saya anggap bagus adalah membanggakan terutama buat saya sendiri.

Iklan
  1. Januari 21, 2011 pukul 9:14 pm

    kita rupanya salah satu spesies unik..
    Doyan Mahavishnu Orchestra, Dream Theater sama Stratovarius?

  2. Januari 21, 2011 pukul 10:04 pm

    menurutku itu selera tinggi malah Gan, kalo saya lebih demen Powermetal, gampang dicerna dan pesannya jelas belum bosen dari SMP.. *indonesia gt.

  3. Slowhand
    Januari 21, 2011 pukul 10:42 pm

    Musikku juga 90 persen oldies

  4. Slowhand
    Januari 21, 2011 pukul 10:43 pm

    Musikku juga 90 persen oldies bluer rock

  5. Slowhand
    Januari 21, 2011 pukul 10:44 pm

    Musikku juga 90 persen oldies blues rock

  6. alex
    Januari 22, 2011 pukul 8:29 am

    koq ga ada yg suka underground..hip-hop, ska?

  7. Januari 22, 2011 pukul 4:39 pm

    klo lokal sy suka efekrumahkaca

  8. Februari 2, 2011 pukul 7:50 pm

    Kelas 1 SMP suka Jazz gara2 nongkrongin KLCBS terus…..
    Kelas 2 SMP mulai suka aliran keras dimulai dari heloween, iron maiden, metallica, megadeth dll.. (yg lain2 masih suka NKOTB)
    kelas 3 smp mulai suka hardcore, thrash, grindcore & death metal, mulai iseng2 ngeband juga, bawain lagu2nya Megadeth, Napalm Death, Entombed, dkk.
    kelas 1 SMA masih suka hardcore, thrash, grindcore, death metal, skaterock, punk rock plus Art rock(dulu perasaan namanya belum progressiverock) mulai dari marillion, yes, ABWH, king crimson, ELP, van de graaf generator dll.
    Kelas 2 SMA mulai fokus ngeband Punk Rock terutama lagu2nya Ramones & The Sex Pistols sampaikelas 3SMA
    jaman kuliah nggak terlalu fokus ke music, fokusnya ke nongkrong aja….heheheh pernah sekali maen dangdut di acara jurusan & sekali maen lagunya Live di aula timur…..

    pokoknya dulu itu suka musik yg org nggak banyak/belum banyak suka, ketika sudah banyak yg suka mulai pindah aliran…. hehehehe

  9. hamari
    Maret 5, 2011 pukul 7:09 pm

    komputer & hp gw jg 90% lagu progressive,thrash,heavy,jazz,dll. gw jg pilh2 klo dngr musik,gw ga suka musik easy listening. mending gw dngr musik dngn aransemen berat,orkestra,melodi2 indah para gitaris & keyboardis dll. gw jg suka godbless,gong 2000,guruh gipsi,elp,genesis,dream theater,iron maiden dll.

  10. Laksito
    Mei 25, 2011 pukul 11:30 am

    Wis sui ‘ra sowan nang nggone Den Fander ….

    awa’qu keroncong lan campursari ….

  11. ebbes
    September 28, 2011 pukul 1:13 pm

    sy penikmat musik, tapi tidak fanatik, dr segala jenis musik pasti ada satu yang sy suka, tapi memang sy lebih banyak instrumentalia ( classic, yanni, kitaro, r.clayderman, vannesa may), lalu campur sari, ebiet, lagu-lagu lama indonesia.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: