Arsip

Archive for the ‘Refleksi dan Berpikir’ Category

(Curhat) Musik Saya adalah Saya

Januari 21, 2011 11 komentar

kali ini izinkan saya tidak menulis motor dulu, ini tentang hobi saya yang lain: musik

Orang yang paling selektif soal musik yang pernah saya kenal adalah diri saya sendiri.

Sebagai pemuda, musik yang saya dengarkan bukanlah yang lazim berseliweran di jagad televisi dan radio. Hape saya diisi dengan album Casiopea, Rush, God Bless dan masih banyak musisi-musisi yang dianggap fosil bagi generasi sekarang. Hal yang sama muncul di playlist WMP komputer saya yang isinya Jazz, Prog Rock, Pop Kreatif, dan.. Keroncong!!!

Bagi saya, apa yang ada di koleksi musik adalah cerminan dari pribadi seseorang. Bagi orang yang menggemari musik “terancam punah”, mengoleksi musik era lawas adalah monumentasi dari semangat yang pernah muncul di permukaan. Gerakan hippies di 60an akhir, art rock di 70an semuanya butuh totem untuk eksistensi mereka beberapa dekade di belakang.

Hal ini menyenangkan juga membangkitkan gairah. Bayangkan anda mendengarkan kembali rekaman Ebiet G. Ade lantas membayangkan perjalanan imajiner menuju padang rumput. Musik folk dengan lirik puitis Ebiet adalah pemacu visual yang menggairahkan, membangkitkan naluri imajinasi anda. Baca selanjutnya…

Lika-Liku Kemacetan Jakarta (prolog)

Januari 7, 2011 9 komentar

Macet - ngunci

Jakarta adalah macet, macet adalah Jakarta.

Keduanya adalah kawan lama sejak dulu. Weekend di Jakarta yang kita bilang sebagai Jakarta yang tidak macet-pun masih dianggap semerawut oleh teman saya dari luar kota. Tercatat Jakarta bisa lengang kalau libur lebaran, itupun hanya sekedar memindahkan penduduk (dan macetnya) keluar kota.

Karena identik dengan macet, penduduk Jakarta juga jadi familiar dengan semerawutnya Jakarta. Lantas ini semua menjadi budaya, budaya macet. Karena tiap hari disuguhi kendaraan yang berdempet-dempet berebut tempat di jalan, kemacetan jadi mengendap di pembuluh darah penduduknya. Berangkat pagi dengan kemacetan begitu juga dengan pulang. Uji kesabaran sudah menjadi makanan sehari-hari, jadi jangan heran kalau orang bule bilang kita orang sabar-sabar.

Tapi mari kita lihat detil-detil kemacetan yang kadang-kadang luput dari mata, dari kacamata biker yang beberapa kali menyenggol spion mobil di sebelahnya…

Strategi Praktis Buat Kymco-Tiru Bajaj Saja

Februari 26, 2009 7 komentar

Oh bukan meniru produk line-up Bajaj, cukup kita pelajari saja strategi-strategi praktis ala Bajaj di Indonesia.

Kymco sudah melaju di Indonesia sejak tahun 2000-an awal. Tapi hingga sekarang keberadaannya belum bisa dikatakan diterima sepenuhnya oleh orang Indonesia. Apa ada alasan khusus dibalik ini semua? Baca selanjutnya…

Dibalik Kabar Kedatangan XCD 135

Februari 8, 2009 12 komentar

Lah memangnya kenapa???

Monggo deh mari kita berpikir-pikir dulu sampai pusing, mumpung sedang hari minggu pikiran sedang tidak terlalu banyak.

Bajaj memang sedang ganas-ganasnya, dengan strategi fokus di jualan motor sport mereka bisa meraih pendukung dari banyak pengguna.

Salah satu poin dalam strategi penjualan yang agresif mereka adalah dengan mengeluarkan produk-produk yang rapat, dalam artian mau cc berapa aja gue ada. Kita tahu Pulsar memiliki line-up 180 dan 200cc, dan isunya sebentar lagi akan datang 150cc atau 220cc, entah mana yang akan datang duluan. Baca selanjutnya…

Perlukah Lajur Khusus Motor?

Desember 9, 2008 8 komentar

Wacana ini terkadang terdengar seiring dengan wacana pembatasan jumlah motor di ibukota. Pembatasan jumlah motor dinilai membutuhkan alternatif lain atau mungkin sekedar pelengkap. Maklum wacana ini termasuk kontroversial di kalangan bikers. Pembatasan motor dinilai menganaktirikan bikers yang selama ini jurstru menjadi penyumbang pajak kendaraan terbesar.

Nah beberapa kalangan memberikan alternatif dengan memberlakukan lajur khusus motor di ibukota. Dengan lajur ini diharapkan motor yang dianggap sebagai biang kerok kemacetan tidak lagi menginterupsi pengendara lain. Seberapa efektif wacana ini?

Kemungkinan besar hanya jalan-jalan tertentu yang dijadikan sasar, seperti halnya jalur busway. Lajur khusus motor ini juga sepertinya akan menggunakan separator jalan ala busway. Nah?

Melihat kelemahan dari busway yang justru mengakibatkan kemacetan akibat bertambah sempitnya ruas jalan sepertinya wacana ini perlu ditinjau ulang-seandainya memang akan diterapkan. Baca selanjutnya…

Belum Hilang Konsentrasi Sebelum Berkendara

November 12, 2008 18 komentar

Pernah saya mengalami saat setelah keluar dari warnet demi merampungkan misi di blog ini saya langsung menaiki motor saya. Sebelumnya saya sudah nongkrong di depan layar komputer warnet tersebut selama satu setengah jam. Nah dalam perjalanan saya seakan masih ling-lung dengan keadaan sekitar. Untung saja saat itu jalanan sedang sepi, alhasil saya masih diberi kesempatan untuk sampai di tujuan dengan selamat.

Pernah mengalami hal yang sama? Setelah melakukan kegiatan yang membutuhkan konsentrasi, anda beralih ke kegiatan lain dan anda kesulitan untuk berkonsentrasi pada kegiatan tersebut? Saya tidak berhasil mendapatkan refrensi di internet mengenai hal ini, namun mari saya bahas, meski terbatas…

Saat kita melakukan suatu kegiatan, otak kita akan bekerja dan fokus pada kegiatan tersebut. Fokus yang tinggi pada otak tentunya perlu pada kegiatan tersebut. Namun masalahnya adalah ketika kemudian kita beralih pada kegiatan yang lain, kita kehilangan konsenstrasi. Baca selanjutnya…

Menurut Anda Berapa Batas Minimal Menjadi Boncenger

Oktober 30, 2008 8 komentar

Image Hosted by ImageShack.usTerkadang saya melihat satu keluarga dibawa semua dalam satu motor. Sang bapak pegang kendali, dibelakang ada istrinya plus satu orang anak di antara sang bapak dan ibu, biasanya lagi ada yang ditaruh di depan sang bapak. Saya jadi bingung anak sekecil itu kok sudah ditempatkan di area yang berbahaya seperti jalanan di Indonesia ini. Jadi menurut anda berapakah umur minimal bagi seorang anak untuk menjadi boncenger?

Anak kecil pada umumnya memiliki refleks yang baik terhadap kondisi jalan raya. Namun mereka dihadapkan pada kondisi yang mengharuskan seseorang untuk benar-benar fokus pada jalan di depannya. Meskipun yang menjadi pengendali bukan dia (jelas) namun tetap sebagai pembonceng harus tetap memiliki kesadaran akan keadaan jalan. Baca selanjutnya…