Beranda > brotherhood, Informasi, Marketing, Motor > Ndobozz Soal Motor Nasional…(part 3) Strategi Para Praktisi dan Pemerintah

Ndobozz Soal Motor Nasional…(part 3) Strategi Para Praktisi dan Pemerintah

Kalau di postingan saya yang sebelumnya saya ndobos soal Alih Teknologi vs Gotong Teknologi, kita perlu tahu strategi para praktisi industri dan pemerintah soal eksistensi motor nasional

Diandaikan para praktisi sepakat untuk alih teknologi, maka sekarang kita butuh strategi supaya alih teknologi bisa berjalan dengan mulus. Pemeran penting dalam pengadaan motor nasional salah satunya adalah para praktisi dan pemerintah.

Strategi para praktisi

GEA, Komodo, Kancil, Tawon…apa lagi? Semuanya adalah impian mobil nasional yang kini sedang santer beritanya. Harapan menyeruak, akhirnya Indonesia bisa bikin mobil sendiri…tetapi… Anda perhatikan tidak ada satupun dari prototipe mobil-mobil ini yang setidaknya layak jual, masih mentah tidak layak dilempar ke pasaran mengingat kualitas rancang bangun yang masih seadanya.

Karena…

Tidak ada kerjasama diantara para praktisi industri yang mencoba membuat mobil nasional. GEA buatan INKA Madiun berdiri sendiri, Tawon buatan PT Super Gasindo Jaya berdiri sendiri. Semuanya masih “egois” dengan mainannya masing-masing. Padahal dalam soal produksi mobil nasional kita masih “bau kencur”.

Dalam konteks motor nasional ada baiknya para praktisi melakukan kerja sama. Hindari sikap egois dan gengsi dalam proyek motor nasional. Kongkritnya para praktisi RnD mesin mengembangkan mesin bersama-sama, dipadukan dengan para ahli desain produk yang lebih mumpuni merancang tampilan. Setelah itu butuh para cendekiawan yang ahli soal manajemen, jangan hanya satu perusahaan saja yang memegang itu semua.

Tapi bagaimana cara menyatukan para praktisi dalam satu payung yang sama? Kita butuh satu sarana untuk mengarahkan tujuan para praktisi tersebut…

Strategi pemerintah

Pemerintahlah yang bisa jadi payung…

Mengapa? Harapan utopis-nya sih tentu saja menghindari keinginan sepihak yang bisa muncul kalau dipegang oleh swasta. Pemerintah bisa membentuk suatu tim proyek motor nasional yang anggotanya ya para praktisi tadi. Bisa saja kan membuat perusahaan BUMN sendiri yang memproduksi motor nasional? Itu strategi jangka pendeknya.

Strategi jangka panjangnya? Supaya motor nasional ini bisa bertahan lama ya tentu saja harus ada inisiatif dari pemerintah sendiri. Bisa saja dengan mengganti semua motor dinas dengan motor produksi sendiri. Instansi yang membutuhkan motor dalam jumlah banyak seperti Pos Indonesia, PLN, Telkom bisa mengganti armadanya dengan motor nasional. Tentunya bertahap, melihat umur dan value dari kendaraan yang lama.

Buat warganya sendiri tentu bisa dari insentif pajak, keringanan pajak kendaraan bermotor buat motor nasional, keringanan biaya parkir, keringanan biaya BBM, atau yang lainnya.  Keringanan-keringanan di atas harapannya meningkatkan value dari motor nasional tersebut, juga untuk mempercepat peralihan mindset orang Indonesia dari yang hanya melihat produk Jepang ke produk sendiri.

Tapi harapan-harapan di atas hanya sekedar utopia… apalagi negeri ini dikenal sebagai negeri yang memberikan pajak tinggi untuk kendaraan ramah lingkungan seperti Hybrid… Harapan saya semoga ini bukan mimpi di siang bolong…

Iklan
  1. Oktober 29, 2009 pukul 1:46 pm

    pertamax

  2. Oktober 29, 2009 pukul 1:47 pm

    maju terus motor indonesia……..
    (berharap mode : on)

  3. Oktober 29, 2009 pukul 2:18 pm

    Memang lebih asyik jika ada yg memayungi & memfasilitasi. Apalagi kalau diberi insentif.

    Tapi daku salut atas inisiatif2 sporadis tentang kemandirian, salah satunya di industri otomotif. Kalau upaya2 ini dipupuk, kelak pasti akan semakin maju. Mungkin malah tanpa payung dan fasilitator dari pemerintah. Hehehe…

    Maju terus…

  4. Oktober 29, 2009 pukul 4:03 pm

    dulu BUMN bikin pesawat, negara kita agraris tidak cocok (macul aja).
    sekolah pinter2 gak bisa bikin bom (lha sak iki bom nang ngendi-ngendi).
    sekarang bikin panser, bikin pistol, senapan perang, mau alasan apa lagi?
    kalo cuma bikin motor gampang (asal jangan berhahan nuklir). optimis 1000% kalo ada duit ada dukungan cuma nunggu waktu

  5. sabdho guparman
    Oktober 29, 2009 pukul 4:25 pm

    lha sa iki kan pemerintah defisit terus . . . gedean blanja dari pada income
    ya akibatnya menggenjot pajak yang nota bene siapa lagi kalau bukan ATPM .
    pajak BBN aja 10 % dari harga motor ( tau sendiri kan berapa motor yang terjual di mari dalam setahun ) belun lagi PPNBM yang bisa 200 %, memang yang bayar adala customer kayak kita-kita ini . yang ujungnya imbal balik pajak tersebut masih minim kita rasakan.
    secara logis pemerintah pasti akan ” mendengarkan ” permintaan para pembayar pajak yang selalu minta ” iklim sejuk investasi” ya wis pemerintah lali karo nasipe motor nasional yang selalu jadi gagasan .

    memang ndak mudah memanage negeri kita ini.

    keep brotherhood,

    salam,

  6. Oktober 30, 2009 pukul 5:32 am

    Pemerintah belum tahu… kalo Industri sepeda motor punya industri hulu dan hilir yang banyak…. yang dia tahu hanya urusin KPK aja….

  7. Oktober 30, 2009 pukul 10:09 am

    wacana alih teknologi emang ndobos bro 😛

  8. yahonsuwakanja
    Oktober 30, 2009 pukul 1:48 pm

    Jadi ingat waktu SD…ikutan karnaval tarkam 17-an…bikin model pesawat tempur dari bambu sama kertas semen dicat ditulis “alih tehnologi” .start dr ambarukmo finish alun2 utara.
    setelah berpuluh tahun ndak ada tuh pesawat tempur yg bikinan sendiri….adanya malah pesawat tua yg kehabisan suku-cadang krna embargo…..weleh2…
    emang bener alih tehnologi ternyata cuma retorika belaka…. para politisi & pemimpin negeri kita lebih senang sm pedagang….kapan ya…..

  9. yahonsuwakanja
    Oktober 30, 2009 pukul 1:49 pm

    ndobozz = retorika

  10. Oktober 30, 2009 pukul 4:11 pm

    Ndobozz itu mungkin plesetan dari DOBOL (wong Semarang pasti tahu artine) = omong kosong.

  11. ona
    Oktober 31, 2009 pukul 9:26 am

    sek kono… numpak ER6 lintas negara, se konone neh live report GP sepang… lak kok kene malah ndobz… hiks… :((

    Usul kang… siaran live report seko eropah pisan2 ben ngangkat 😀 ^^V

  12. Oktober 31, 2009 pukul 9:08 pm

    Dobol=ndoboz=mitro=nggedebus :mrgreen:

  13. Fachrulx2 Nganggur Ngeblog
    November 2, 2009 pukul 7:50 pm

    Cuman satu intinya,, Perlu Butuh Modal Besar bos…

  14. November 2, 2009 pukul 10:11 pm

    hehe…boleh ikutan gak?

    IMHO, prioritas utama adalah pendidikan. pemerintah kudu menaikkan anggaran pendidikan, dengan memfasilitasi masyarakat agar lebih puinter. ntar..kalo semua lapisan masyarakat udah pada pintar2, pasti pada bisa berfikir positif deh. baru deh jalan semua roda kehidupan dengan lebih kenceng.
    kalo pendidikan murah dan bermutu pastinya outputnya juga berkualitas.
    ada seorang temen di yogya yang kerjanya sebagai ‘pamong belajar’. kerjanya mengajar anak2 dari masyarakat marjinal. bukti bahwa masih banyak adik2 kita yang terlalu ketinggalan.
    saya yakin, semua yang baca tulisan ini pastinya sekolahe apik, pikirannya terbuka. tapi bagaimana dengan jutaan masyarakat yang lain?
    it’s just my opinion 🙂

  15. November 29, 2009 pukul 9:47 am

    indonesia kok kaxak gini..yaa.yaa mumet..mumet..males ak mikir.wong ngliat pimpinan kita gwa jijik.maunya korupsi trs ndak mau mikirn rakyau jember ak

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: