Beranda > brotherhood, Informasi, Marketing, Motor > Ndobozz Soal Motor Nasional…(part 2) Alih Teknologi vs Gotong Teknologi

Ndobozz Soal Motor Nasional…(part 2) Alih Teknologi vs Gotong Teknologi


Dua istilah di atas saya pakai karena ndak ketemu padanannya, tapi yang penting penjelasannya… namanya juga ndobozzz… :mrgreen:

Lanjutan dari part 1 kali ini dobosan saya bercerita tentang perbedaan antara alih teknologi dan gotong teknologi. Yang satu membantu proses menuju proyek motor nasional yang satu menghambat. Apa sih beda keduanya???

Pabrikan motor Jepang sudah mendarat di Indonesia sejak lebih dari 30 tahun yang lalu. Keberadaan para samurai ini telah membentuk benchmark di pikiran orang Indonesia soal motor yang berkualitas. Tetapi setelah bertahun-tahun dihinggapi oleh mereka mengapa kita belum bisa “mencuri” kemampuan para samurai itu???

Dibalik istilah “mencuri” yang terkesan kotor ternyata kata ini punya sejarah dalam keberadaan motor dari Negeri Matahari Terbit. Produk Honda konon dulu mengambil ide dari motor-motor Eropa, setelah berberapa tahun barulah muncul produk-produk yang khas.

Alih Teknologi

Bagi yang doyan cerita silat pasti tau stereotipe jagoan silat: “ilmu didapat dari mencuri”. Alih teknologi adalah pencurian yang bersih bahkan patut dicontoh. Alih teknologi bisa diandaikan samurai yang mempelajari teknik lawan lalu mengembangkannya menjadi teknik baru-khas miliknya.

Berapa orang yang sudah masuk ke perusahaan produsen motor raksasa? Mengapa kita tidak mengambil ilmu bagaimana membangun motor yang benar, bagaimana mencari tahu keinginan konsumen, dan bagaimana membangun sebuah proyek motor nasional yang masif. Itu semua ada dan dipelajari dari produsen-produsen tersebut…

Bukan menerapkan teknologi produsen Jepang mentah-mentah…apalagi meniru paten.

Pejabat kita banyak yang datang berkunjung ke pabrik perakitan motor, adakah keinginan di hati mereka untuk membangun pabrik motor sendiri di atas kemampuan anak-anak bangsa? Atau sekedar mengagumi ladang pajak yang bisa dipanen kapan saja?

Yang dibutuhkan sekarang adalah kemauan untuk belajar dari saudara tua kita lantas kemudian membangun resep sendiri berdasarkan pengalaman di dapur orang lain…

Gotong Teknologi

Gotong teknologi adalah mencuri dalam arti sebenarnya, atau bahkan lebih buruk. Stereotipe di kasus ini adalah produk Cina yang sering dituding plagiat. Gotong teknologi adalah menggunakan teknik orang lain secara mentah-mentah tanpa ada usaha untuk mengembangkannya sendiri.

Gotong teknolgi pernah terjadi di proyek mobil nasional yang kita kenal dengan nama Timor. Timor tidak lain adalah Kia-mobil buatan Korea yang diklaim sebagai mobil nasional. Yang “nasional” dari mobil ini cuma emblemnya-dan saya pun tidak yakin kalau emblemnya buatan Indonesia…

Bahkan sering juga gotong teknologi menjadi sebuah praktek plagiatisme murni. Coba saja lihat dulu berapa banyak tiruan Honda Supra lalu-lalang di jalan. Mocin Supra-wannabe adalah keinginan membuat motor yang sesuai dengan orang Indonesia tanpa mau repot membangun karakternya sendiri. Dan ternyata kualitas mocin-mocin ini rata-rata inferior dan sekarang hanya beberapa yang bertahan.

Dalam konteks motor nasional jangan kita ambil jalan pintas dengan megambil keahlian orang begitu saja. Jangan sampai nasionalisme tercetak dalam sebuah produk yang amoral…

Alih Teknologi vs Gotong Teknologi

Adalah persoalan mau mengerti atau hanya menghapal, contohnya…

“Budi menghabiskan uang jajannya”

Alih teknologi: Ternyata Budi anak yang boros

Gotong teknologi: Budi menghabiskan uang jajannya… Budi menghabiskan uang jajannya… Budi menghabiskan uang jajannya… Budi…

tubi kontinyu…

Iklan
  1. Ronkar
    Oktober 28, 2009 pukul 9:42 pm

    Mantap bro…dukung seratus persen orasinya…pertamak hehehe

  2. Oktober 29, 2009 pukul 5:50 am

    bermain bola (nerusin kalimat terakhir).
    gpp mas gotong teknologi dulu. dari situ kan sambil belajar (jadi ingat iklan tivi; gak ada noda gak belajar). dari kritik sana-sini yang membanjir bak hujan di musim hujan (kapan ada hujan di musim kemarau ya), baru deh introspeksi, koreksi diri dan lama-kelamaan bisa bikin produk yang khas sendiri. tapi ya itu tadi harus ada komitmen dan kesungguhan untuk membangun produk nasional sendiri yang punya identitas. and pemerintah harus mendukung penuh beribu-ribu persen kadarnya. (mohon maaf kalo saya dobel posting. tadi postingan pertama gak nongol-nongol juga. jadi saya berusaha terus…hehehe..)

  3. xxl123
    Oktober 29, 2009 pukul 6:22 am

    Mbuh lah 😀

  4. Laksito
    Oktober 29, 2009 pukul 7:25 am

    SDM teknis, sih, uda banyak.
    Pem0dalnya yg belum mau.
    Pertaruhannya gede banget ….

  5. Oktober 29, 2009 pukul 8:35 am

    saya rasa kemauan dari anak bangsa kita yang belum kuat. zaya selalu percaya dengan kemauan dan disiplin yang kuat kita pazti bisa buat motor yang kompetitif. hayo ditunggu ?

  6. Oktober 29, 2009 pukul 8:46 am

    saya yakin bisa…
    bnyak anak bangsa kita yg jadi juara olimpiade di negeri sono..itu membuktikan bahwa kita sebenarnya mampu…hanya saja pejabat terlalu memikirkan diri sendiri…liat saja mereka blum kerja da minta naik gaji..loh2 kok jadi politik ya
    kabor…..takut dicekal

  7. sabdho guparman
    Oktober 29, 2009 pukul 8:57 am

    sudut pandang ane sedikit beda mas fander,
    penyebab utama dari terjajahnya bangsa kita atas produk otomotif adalah kesalahan para pengelola negeri tercinta kita.
    banyak penemuan-penemuan dari putra terbaik bangsa ini tapi tidak diberi ruang cukup oleh pemerintah kita .
    inget kasus mobil kancil,mobil golf elektrik yang hanya sekedar prototype dan tidak pernah di produksi masal dan akhirnya menemui ajal .
    pemerintah kita tidak berdaya untuk memihak putra bangsa dan tetap memberikan angin surga kepada investor asing.

    dan akhirnya para peneliti putus asa dan lebih memilih untuk memendam konsep tehnologi yang mereka punya.(termasuk ane )

    keep brotherhood,

    salam,

  8. Oktober 29, 2009 pukul 9:02 am

    kita menerapkan 5S aja dalam keseharian itu dalam 1 tahun negara bisa maju. masak lulusan sarjana yg permente jadi kuli pabrik (oon lagi), niru nya jangan yg (wah)besar dulu, dari yg kecil dulu lah, jangan jadi metal tukang ojeg dong. anda tahu 5S dan apa udah menerapkan?

  9. hendra
    Oktober 29, 2009 pukul 10:46 am

    @bangsat….
    5s tuh apa??

  10. yahonsuwakanja
    Oktober 29, 2009 pukul 11:18 am

    Contoh yg paling gampang dan mudah diingat…
    Keberadaan Nurtanio ato IPTN ato sekarang PT Dirgantara Indonesia…pada kemana perisetnya …orang2 pinter nya ? ?…bekerja dan tinggal di luar negeri
    Apa yg melatar-belakangi berdirinya pabrik pesawat ini ? alih tehnologi / kemandirian bangsa
    Siapa founding father-nya..? BJ Habibie
    sekarang kondisinya bagaimana ? hidup segan mati tak mau..
    apa-nya yg salah ? salah urus…ato kebijakan politisi senayan…
    dan banyak orang2 pinter lainnya yg justru kalah sama para politisi…
    kenapa….?

  11. Oktober 29, 2009 pukul 12:25 pm

    @all
    nah dobosan ketiga adalah soal peran dari pemerintah…ditunggu ya…

  12. Oktober 29, 2009 pukul 1:59 pm

    Gotong teknologi sebenarnya tidak salah. Bahkan daku yakin 100% kalau Jepang pun dulu melakukan hal seperti itu saat bangun dari keterpurukan PD II. (*sambil buka-buka buku sejarah*)

    Seperti halnya saat kita belajar bermusik (halah, kok jatuhnya ke musik tho? biarlah… biar pas analoginya), bukankah yg kita pelajari adalah lagu2 orang lain? Bukankah yg kita bawakan atau nyanyikan adalah lagu-lagu orang lain? Dan setelah kita bisa main musik dengan baik, lalu kita bisa membuat lagu sendiri.

    Kurang lebih seperti itulah pandanganku tentang gotong teknologi 😀 Tentu tanpa ada maksud untuk membela plagiasi atau plagiator. Karena jika itu dilakukan dalam rangka belajar, itu bukan tidak baik.

  13. Oktober 29, 2009 pukul 3:51 pm

    @ hendra

    semua pabrik/perusahaan nipon pasti mnggunakan 5S ini, kalo tak amati itu kunci mereka ( mereka bisa menerapkan di individu). kalo kita terapkan di senayan banyak sekali sampah dan benalu yg harus di delete. mereka bekerja untuk partai, kalo partai nya kalah, ya paling jadi kangker yg merongrong negara. niatanya ingin menjatuh kan mencari kesalahan dan kelemahan lawan. pajak ku buat bayar orang gila……………..

  14. nunoe
    Oktober 29, 2009 pukul 4:40 pm

    bahkan mesin konfigurasi L-twin milik Ducati awalnya meniru V-twin Harley Davidson..
    bayangin, pabrikan juara dunia seperti Ducati awalnya seeprti itu, tapi akhirnya malah punya ciri khas sendiri.. L-twin desmodromic, salah satu mesin yg paling menakutkan di planet ini *lebay ah 😛
    kenapa negri yg segede ini ngga bisa melakukannya?????

  15. Adam Kurniawan
    Oktober 29, 2009 pukul 11:27 pm

    Mantab infonya sob.
    Ditunggu posting selanjutnya ya sob!
    Jangan lupa datang keblog aku dan kasi komen juga ya!

  16. Desember 17, 2009 pukul 8:32 pm

    dulu kan ada BInter (Bintang Terang) bro yang kerja sama ama kawasaki, mungkin itu cikal bakal motor nasional (sama seperti kasus TVS-Suzuki,Hero-Honda,Bajaj-Piagio di India)….sayang gk lanjut….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: