Beranda > Informasi, Marketing, Motor > Indonesia Motorcycle of The Year 2008 (JMS)

Indonesia Motorcycle of The Year 2008 (JMS)

Pada pagelaran Jakarta Motorcycle Show 2008 nanti akan diadakan sebuah penghargaan motor terbaik tahun 2008. Sebanyak tujuh motor dari berbagai pabrikan bersaing di penghargaan ini. Ketujuh motor tersebut adalah motor-motor yang dipilih oleh para juri. Sebanyak 40 juri menyeleksi motor-motor yang dijual dan diproduksi masal di Indonesia.

Nantinya 17 juri akan memilih motor-motor tersebut dengan sistem penilaian tersendiri. Setiap juri memiliki 25 poin. Sebanyak 10 poin per juri akan diberikan ke satu motor dan sisanya diberikan kepada motor-motor lainnya.

Berikut ini adalah motor-motor yang akan bersaing di ajang ini:

  • Bajaj Pulsar 200 DTS-i
  • Honda Beat
  • Honda Supra X125 PGM-FI
  • Honda Vario
  • Kawasaki Ninja 250 R
  • Suzuki Satria F150
  • Yamaha V-IXION

Sepertinya penempatan Honda Supra X125 PGM-Fi yang cuma jadi proyek imej Honda agak aneh ditempatkan di sini. Tapi soal pelopor motor injeksi produksi lokal bolehlah. Ada dua skuter matik dari Honda, mbuh alasannya apa menempatkan keduanya. Tapi Yamaha Mio, raja skuter matik yang sampai saat ini belum lengser dari kedudukannya malah tidak ada. Plus satu motor yang segera akan berganti wajah Suzuki Satria F150, rasa-rasanya kok tanggung bila terpilih.

Ah sudahlah ke-40 juri sudah memiliki pertimbangan tersendiri, saya sih netral-netral saja. Toh kriteria ajang award-award macam ini biasanya tidak jelas-menurut saya pribadi…

  1. Ipas Noba
    Desember 3, 2008 pukul 11:29 am

    Ya Yamaha V-Ixion aja lah yg jadi pemenang PERTAMA dan klo bisa best of the best… motor laki injeksi+radiator+terjangkau+bertenaga…

  2. Desember 3, 2008 pukul 2:41 pm

    Copy paste aja dari blog YVC Bogor :

    Kalo secara pribadi sih, pemilihan 7 finalis ini kurang obyektif, karena cuma di voting oleh 40 wartawan otomotif yang notabene kurang “independent” (sori ya, cuma pendapat).

    Mungkin lebih obyektif kalau melibatkan pemerhati otomotif.

    Kalau diperhatikan, 7 finalis tersebut sama sekali tidak mempertimbangkan merk, varian, teknologi, data penjualan dan tahun dirilisnya motor tersebut.

    Seharusnya pemilihan tersebut diklasifikasikan berdasarkan :

    – varian/kelas (matic, sport atau bebek).
    – tahun keluaran.

    Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah faktor “kejenuhan”, sebut saja Vario dan Satria F150, sudah berapa tahun umurnya sejak dirilis pertama kali ?

    Sekarang coba kita bandingkan (sori) antara :

    NINJA 250R dengan BeAT !

    Logis tidak apabila Beat dinobatkan sebagai Best Indonesia Motorcycle 2008, mengalahkan Ninja 250R ?
    Dari sisi teknologi, kelas, harga, jelas Beat berada di bawah Ninja 250 R.

    Kalau yang jadi pertimbangannya data penjualannya…. muncul pertanyaan… kenapa yang menjadi finalis (bebek) adalah Supra X125 PGM-FI, bukannya Supra X125 R, kalau begitu… tidak perlu melibatkan FORWOT, cukup data penjualan dalam satu tahun saja yang dipakai !…

    Betul…???

  3. Desember 3, 2008 pukul 6:12 pm

    Ternyata 40 juri itu wartawan otomotif toh? Wah, bener mas, harus ada pembagian dan kriteria penilaian yang jelas…

    ngomong-ngomong ndak bisa pilih lewat SMS ya?? 😀

  4. Desember 4, 2008 pukul 5:27 am

    mio tidak masuk . . .
    sungguh award yang aneh !!!

  5. Ipas Noba
    Desember 4, 2008 pukul 9:02 am

    yang lebih aneh lagi mas, Vario vs BeAT……!! Upgrade vs Downgrade…!! Aneehhh bangettttttttt…….

  6. real_injektion
    Desember 4, 2008 pukul 10:19 am

    BIARLAH BEGITU ADANYA…WONG MEREKA2 SUDAH PUNYA PERTIMBANGAN TERSENDIRI… MOGA2 NINJA 250R YANG TERPILIH

  7. Desember 5, 2008 pukul 11:38 am

    Kita lihat saja siapa yang menang nanti. Satria facelift akan diluncurkan di JMS rencananya, sedangkan yang dinominasikan yang lama kayaknya…

    aneh?

  8. Desember 6, 2008 pukul 11:02 am

    Melanjutkan komentar @2 yang copas dari blog YVC Bogor, ada penjelasan yang berkaitan dengan sistem penjurian terhadap pemilihan 7 finalis motor terbaik tahun 2008. Penjelasan tersebut disampaikan oleh Nugroho Adhi, Ketua Presidium Dewan Juri IMOTY-Forwot 2008 dan Wisnu Guntoro A. wartawan bidang penulisan otomotif, berikut komunikasi yang terjadi antara kami :

    ***********************

    Bro Nadi :
    nadi Berkata:
    Desember 3, 2008 at 6:26 pm e

    Mas Moderator yang baik, senang sekali saya dapat nimbrung di blog ini.

    Sebelumnya, perkenalkan, saya Nugroho Adhi yang kebetulan oleh teman-teman dan para senior di Forwot diminta menjadi Ketua Presidium Dewan Juri IMOTY-Forwot 2008.

    Terkait dengan postingan Anda soal IMOTY-Forwot 2008, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan.

    Pertama, soal komentar Anda :
    ====================
    “……sayang bloger independent seperti Rudy Triatmono, Taufik, Imam, Fanderlart, Giri, Imam dll tidak terlibat dalam penjuriannya. Kalau mereka ikut menjadi juri, pasti makin seru ya ?…
    ===================
    Sudah jelas disebutkan bahwa even ini merupakan agenda Forum Wartawan Otomotif (Forwot). Jadi yang berhak menjadi juri adalah anggota Forwot. Kecuali, di masa mendatang, ada kebijakan Forwot untuk “mengundang” juri tamu.

    Kedua, komentar yang tertulis :
    ================
    Kalo secara pribadi sih, pemilihan 7 finalis ini kurang obyektif, karena cuma di voting oleh 40 wartawan otomotif yang notabene kurang “independent” (sori ya, cuma pendapat).

    Mungkin lebih obyektif kalau melibatkan pemerhati otomotif.

    Kalau diperhatikan, 7 finalis tersebut sama sekali tidak mempertimbangkan merk, varian, teknologi, data penjualan dan tahun dirilisnya motor tersebut.

    Seharusnya pemilihan tersebut diklasifikasikan berdasarkan :

    * varian/kelas (matic, sport atau bebek).
    * tahun keluaran.

    Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah faktor “kejenuhan”, sebut saja Vario dan Satria F150, sudah berapa tahun umurnya sejak dirilis pertama kali ?

    Sekarang coba kita bandingkan (sori) antara :

    NINJA 250R dengan BeAT !

    dst…….
    =================
    Tujuh finalis itu dipilih dari sembilan (9) pabrikan/perakit sepeda motor di Indonesia, baik anggota AISI maupun non AISI.
    AISI = Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki, Kymco, Kanzen.
    Non AISI = Bajaj, TVS, Minerva

    Jumlahnya? 70 model!

    Sistem kontes, kalo boleh dibilang begitu, adalah FREE FOR ALL!
    Jadi setiap orang bebas memilih sesuai 70 model motor yang beredar di Tanah Air.

    Jadi ini memang tarung bebas. Jadi syah-syah saja Beat melawan Ninja 250. Metode ini memang kami adaptasi dari pemilihan serupa yang berlaku di Eropa dan Jepang. Tak ada kaitannya dengan data penjualan dan sebagainya.

    Mengutip rilis resmi Forwot “…Cara penilaian Indonesia Motorcycle of The Year 2008 kami adopsi dari metode pemilihan serupa yang berlaku di Eropa dan Jepang. Metode penilaian seperti ini baru diaplikasi pertama kali di Indonesia,” kata Eri Haryoko, Ketua Umum FORWOT.”

    Jadi, sekali lagi, ini FREE FOR ALL. Agak mirip dengan polling yang dilakukan Bro Triatmono maupun Bro Sattar di blognya.

    Kenapa cuma 40? Anggota Forwot yang terdaftar resmi sekitar 70 orang. Ketika 40 anggota bersedia berpartisipasi, kami sudah sangat merasa bersyukur.

    Ini mengingat kesibukan masing-masing yang luar biasa. Voting pun dilakukan via email, dengan lebih dulu memberikan sistematika, penilaian, dan tentu saja daftar 70 motor tersebut.

    Hasilnya ya tujuh motor finalis itu. Saya rasa hasil tujuh finalis ini korelasinya tak jauh beda dengan polling yang dilakukan Bro Triatmono dan Bro Sattar.

    Lalu “kurang independent” yang bagaimana? Kami rasa, itu tergantung pada kredibilitas masing-masing personal. Dan kami yakin, 40 juri itu telah melakukan tugasnya dengan sangat apik dan bertanggung jawab.

    Jika hasil yang keluar, setelah melalui tabulasi data adalah 7 finalis seperti diatas, tentu menjadi keputusan yang tak bisa ditolak atau dimainkan angkanya.

    Namanya juga finalis, toh masih ada proses untuk menjadi The Best Motorcycle 2008.
    Dan itu menunggu hasil pemilihan dari 17 juri anggota Forwot yang dipilih oleh tim perumus.

    Demikian informasi yang dapat kami sampaikan.

    Jika Anda membutuhkan informasi lebih lengkap, silakan menghubungi saya di 08158760075 atau 70292839.
    Bisa juga kontak dengan Ketua Forwot Eri Haryoko di HP : 08128188721, serta Wisnu Guntoro Ketua Bidang Kegiatan Forwot di HP : 08161813124.

    Terimakasih
    Salam,

    *********************

    Mr. Momod Berkata:
    Desember 3, 2008 at 9:22 pm e

    @7. Nugroho Adhi

    Terima kasih atas kunjungan dan penjelasannya, namun demikian izinkan pula saya melakukan klarifikasi terhadap “komentar pribadi” pada akhir artikel di atas :

    Pertama :

    Memang even tersebut merupakan agenda Forwot, demikian pula kewenangan penjurian dan siapa saja yang berhak untuk menjadi juri dalam pemilihan tersebut.

    Namun demikian, pada komentar yang disebutkan di atas, merupakan sekedar “komentar” dan “harapan” yang sama sekali tidak mengurangi makna dari sistem penjurian yang sedang berlangsung.

    Hal tersebut terjadi karena saya pribadi beranggapan bahwa terdapat “sudut pandang” yang berbeda antara wartawan dan blogger seperti yang disebutkan pada artikel di atas.

    Menurut pendapat saya, wartawan, dalam pemberitaannya (mungkin) hanya didasarkan pada “data dan fakta” yang ada. Berbeda dengan blogger yang didalam artikelnya mempunyai kebebasan yang lebih luas dibandingkan dengan wartawan, bebas menganalisa sesuai dengan wawasan/pengalaman yang dimilikinya. Hal inilah yang mendasari pemikiran bahwa :

    “Kalau mereka ikut menjadi juri, pasti makin seru ya ?…”

    Kedua :

    Perihal “pengklasifikasian” varian dan tahun keluaran, inipun hanya pendapat dan mungkin hanya usul yang sangat mudah diabaikan, tetapi makna dari harapan pengklasifikasian tersebut, pada ujung-ujungnya ditujukan kepada ATPM.

    Sebagai contoh 3 ATPM yang “hanya” melakukan “minor face lift” pada produknya, padahal… harapan “market” demikian besar (termasuk saya) terhadap produk yang akan dilakukan face lift tersebut.

    Dengan pengklasifikasian, harapannya… persaingan antara varian/kelas pasti akan lebih fokus dan lebih mendapat perhatian. Sebut saja ketika booming “matic retro”, tidak satupun ATPM yang sudi memasukkannya, walaupun hanya sebatas “ganti baju” saja.
    Demikian pula dengan motor laki berfairing 4 tak (kecuali 1 yang memang diperuntukan bagi segmen menengah-atas), hanya 1 yang masuk, itupun “kloning” dari produk CBU yang ada, ATPM mana ?

    Tulisan2 blogger tentunya “mewakili” harapan para konsumen pada umumnya, tetapi apa boleh buat, mungkin strategi merketing ATPM yang menentukan.

    Perihal “independensi”.
    Artikel/tulisan/polling para blogger hanya akan dibaca oleh kalangan yang amat sangat terbatas. Berbeda dengan pemberitaan di media massa, yang dengan mudah akan membentuk “opini publik”.

    ——–

    Hal itulah yang melatar belakangi “harapan” atau sekedar “usul” keterlibatan blogger/pemerhati otomotif dan pengklasifikasian varian/tahun produk motor yang sedang dinilai.

    Demikian Om Nugroho Adhi (dan FORWOT / panpel), mohon ma’af bila ada kata yang tidak berkenan dan mohon tidak tersinggung, ini hanya ekspresi dan pendapat pribadi yang tidak mewakili siapapun.

    nadi Berkata:
    Desember 3, 2008 at 9:52 pm e

    Mas Moderator, bila boleh saya tambahkan mengenai metode penilaian dengan klasifikasi (tahun, model, teknologi, dll), itu, sudah pernah kami lakukan pada JMS 2006 lalu. Bahkan aspek teknisnya sampai demikian rinci. Berikut dengan pemenang di masing-masing kategori.

    =======
    ….Artikel/tulisan/polling para blogger hanya akan dibaca oleh kalangan yang amat sangat terbatas. Berbeda dengan pemberitaan di media massa, yang dengan mudah akan membentuk “opini publik”.
    ========

    Hehehe…jangan salah, jaman ini adalah eranya citizenjournalism, dengan blog sebagai motornya. Toh banyak rekan wartawan yang juga menjadi blogger, malah lebih ngetop personalnya dibanding corporatnya.

    Selain itu, blog, dengan citizenjournalisme, menjangkau belahan dunia manapun. Tanpa batas waktu dan wilayah. Kekuatan blog, dan blogger ada di situ.

    Tanggapan saya atas tulisan dan komentar Anda, secara tidak langsung menjadi “hak jawab” agar setiap persoalan dapat dipandang secara lebih jelas, dari kedua belah pihak.

    Jadi, tanggapan saya itu bukan bentuk ketersinggungan. Ini agar ada dialog dan informasi yang benar langsung dari sumbernya. Benar begitu brother?

    Salam tabayun,

    **********************

    Mr. Momod Berkata:
    Desember 3, 2008 at 10:15 pm e

    @11. Nugroho Adhi

    Siyap Om….😀

    *cuma bayangin aja… seandainya Beat yang menang, kebetulan saya lagi nyemplak Beat punya istri, terus ketemu bro Taufik lagi nyemplak Ninja 250R….. he…he…he… motor istri saya “is the best”…😀

    **********************

    Wisnu Guntoro A Berkata:
    Desember 4, 2008 at 8:37 pm e

    Saya tertarik untuk ambil bagian dalam wacana ini. Perkenalkan, saya Wisnu Guntoro A. Lebih dari 10 tahun sudah menggeluti profesi wartawan bidang penulisan otomotif. Saat ini saya mengolah situs http://www.smartdrive.co.id. Sebelumnya, saya sempat menjadi wartawan majalah Mobil dan Autocar. Saya juga menjadi pelopor halaman otomotif untuk harian Suara Pembaruan.

    Autocar adalah salah satu media Inggris yang mempelopori European Car of The Year. Ajang pemilihan mobil terbaik di dunia. Di sini sebanyak 59 wartawan dari seluruh Eropa bergabung menjadi juri. Sementara di Jepang duduk 63 wartawan sebagai juri.

    Seperti yang kemudian ditiru FORWOT-IMOTY 2008, seluruh wartawan European/Japan Car of The Year hanya diwajibkan mengisi poling berdasarkan struktur nilai yang telah ditetapkan.

    Hasilnya, sejak tahun 1964 para pemenang Car of The Yaer adalah mobil-mobil yang secara desain dan fungsi mewakili kebutuhan sebagian besar konsumen. Singkatnya, rata-rata pemenang berharga realsitis.

    Kecuali Porsche 928 yang meraih gelar pada 1978, tak pernah ada sport car sekelas Ferrari dan Lamborghini, atau sedan mahal setara BMW Seri 7 atau Mercy S-class yang merasakan Car of The Year.

    Ini menandakan juri Car of The Year paham bagaimana seharusnya mobil yang pantas menjadi juara.

    Akankah semua peraih Car of The Year merupakan mobil impian? Fiat Panda yang meraih Car of The Year 2004 justru dinilai sebagian juri sebagai mobil yang tak istimewa.

    Namun karena di saat itu harga, fungsi, desain dan teknologi yang dimiliki lebih berimbang dari seluruh mobil yang ada, juri memberi apresiasi padanya.

    Menanggapi komentar tentang 7 Finalis IMOTY 2008, saya sepenuhnya menghormati pilihan juri voters FORWOT. Tentu sebanyak 40 voters masing-masing memiliki pandangan berbeda. Tak mudah menentukan 10 motor terbaik dari 70 yang tersedia.

    Lebih dari lima kali IIMS saya duduk sebagai dewan juri Indonesia Best Car. Bahkan saya termasuk orang yang secara detil menyusun formula penilaian, baik teknis, desain, fungsi dan value for money.

    Bahkan saya juga menyusun hal yang sama untuk Indonesia Best Motorcycle 2006. Hingga hari ini telah banyak lembaga yang memanfaatkan struktur penilaian saya ini untuk survey independent.

    Seiring pengalaman menjadi juri otomotif, saya terus mempelajari struktur penilaian teknis yang selama ini diterapkan berbagai media untuk ajang mobil atau motor terbaik.

    Sebenarnya, banyak perdebatan di internal juri ketika melakukan penilaian menggunakan struktur teknis.

    Contoh pertanyaannya simpel. Ketika juri menilai, umpanya, masalah teknologi. Siapa yang pantas menang: Yang canggih dan modern atau yang serasi untuk kondisi umum? Nah, di sini saja sudah memunculkan kesan subyektif.

    Pertanyaan lain, umpamanya, tentang sistem pengereman; siapa yang menguji, kapan waktu pengujian, di lintasan seperti apa pengujiannya, berapa temperatur lintasan saat mobil diuji, berapa suhu udara di dalam ban saat diuji, berapa tekanan pengereman saat dilakukan pengujian, tidakkah sang pengiji kelelahan saat melakukan pengereman untuk sebuah mobil, sejauh mana konsistensi juri melakukan pengereman untuk setiap mobil yang diniali?

    Itu baru segelintir aspek teknis. Bagaimana dengan ssi teknis lainnya?

    Pendeknya, pertanyaan2 ini tak akan selesai dijawab dalam 3 malam. Apalagi bila melibatkan puluhan kendaraan. Sebuah pabrikan tentu menetapkan segala parameter sebelum melakukan pengujian. Dan tak setiap pabrikan memiliki parameter yang sama. Karena itu, tak setiap pabrikan berani mengumumkan data pengujiannya.

    Contoh paling muddah adalah mengetahui nilai konsumsi bahan bakar. Setiap pabrikan pasti memberi tanda bintang untuk metode pengujian bahan bakar yang dilakukan. Tidak asal, jalan pelan, dan AC dimatikan.

    Satu hal lain, mengapa FORWOT tidak membuat berdasarkan kelas? Pertanyaan ini seharusnya juga disampikan pada juri Europen Car of The Year.

    Yang namanya terbaik tentu hanya satu. Misalkan dibuat kelas Best Teknologi atau Best Value, atau Best Desain.

    Tidakkah sang pemenang seharusnya memiliki sisi terbaik dari seluruh unsur tersebut? Kenapa pula ada Best Teknologi atau Best Value, atau Best Desain di samping Sang Juara?

    Sekadar informasi, seharusnya kita bertanya tentang hasil mobil/motor terbaik yang dibuat beberapa media. Pernahkan sebuah media mengumumkan nilai-nilai para pemenang pilihannya? Di mana transparansinya?

    Karena itu, muncul kecurigaan, pemenang biasanya adalah produk yang banyak beriklan di sebuah media.

    FORWOT pada 2006 menjadi yang pertama membeberkan hasil penilaian juri. Seingat saya, waktu itu nilai antara Bajaj Pulsar DTS-i 180 dengan Honda Tiger hanya terpaut 5 point dari total ribuan piont.

    Pun demikian, pihak Bajaj tahu di mana letak kekalahan produknya atas Tiger. Hebatnya, mereka bisa menerima kekalahan itu.

    Bahkan dengan metode penilaian FORWOT yang berbeda, tanpa disengaja, pemenang IMOTY 2006 sama dengan yang diberikan sebuah media cetak.

    Unsur suap juga lebih sulit dilakukan pada metode yang diterapkan FORWOT. Selain tak memberi banyak predikat macam-macam, jumlah juri yang tergabung sangat banyak.

    Semoga info ini bisa membuka wacana tentang bagaimana proses Mobil/Motor Car of The Year tak semudah yang dibayangkan masyarakat awam

    Salam
    Wisnu Guntoro A

    **********************

    Mr. Momod berkata :

    Pada akhirnya, tanpa ada maksud mendiskreditkan profesi tertentu (ternyata di situ letak kesalahannya), walaupun makna yang sebenarnya itu merupakan suatu bentuk ekspresi kekecewaan yang ditujukan pada pihak lain.

    Ma’af ya Om, maklum “the man in the street”.

    ******************

    Demikian diskusi kami pada blog YVC Bogor, tanpa bermaksud untuk membela diri, saya rasa pertanyaan “awam” (termasuk saya) memang kemungkinan akan seperti itu.

    Dengan adanya penjelasan dari Ketua Presidium IMOTY 2008 dan bro bro Wisnu Guntoro Adi, tentunya akan lebih memberikan “informasi” terhadap “pertanyaan2 awam” seputar pemilihan motor terbaik tahun 2008-IMOTY.

    Dengan apresiasi yang sangat tinggi, saya sampaikan ucapat terima kasih kepada bro Nadi dan bro Wisnu atas penjelasan dan informasi yang diberikan (pada blog YVC Bogor).

    Terima kasih bro Fanderlart.
    (ma’af kepanjangan)

    No problemo bro

  9. Maret 31, 2009 pukul 7:41 am

    Ngga jelas……… Jaman gini kok ngga ada klasifikasi atau pengelompokan… Pengelompokan wajib kalau mau “kontes award-award-an”. Ini sih kontes ece’-ece’…. lomba 17-an antar RT di kampung aja dikelompokin…

    PARAH>>>>NGACO’

  10. Razax Foo
    Maret 31, 2009 pukul 12:45 pm

    bro semua…
    menurut ane sih sah2 aja….Forwot melakukan itu
    karena itu kan agendanya Forwot alias Wartawan…..bukan Agendanya “pemerhati motor” atau “pecinta motor” kayak kita2 orang….

    jadi, boleh2 aja….

    tapi 1 yg harus diinget, pendapat mereka juga belum tentu yg paling Benar !!!! he.he

    kita ambil gampangnye aja….

  11. Juni 30, 2010 pukul 3:38 pm

    I thought the topics you posted on were very interesting. Nice Blog and keep posting🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: