Beranda > Motor > Wacana Pembatasan Motor, Pemerintah Asal-Asalan

Wacana Pembatasan Motor, Pemerintah Asal-Asalan

Image Hosted by ImageShack.us
Masalah pornografi di internet? Blok semua situs porno! Beredarnya film fitna? Blok situs yang memuatnya! Sepertinya pemerintah memang senang dengan kebijakan-kebijakan yang semacam ini. Tak terkecuali soal semerawutnya jalanan di ibukota, cari kambing hitamnya dan SIKKKAATTT!!!

Dan sang korban adalah motor, yang memang selama ini selalu menjadi sasaran cercaan atas segala permasalahan mengenai padatnya jalanan di ibukota. Kali ini yang mencuat adalah wacana pembatasan jumlah motor di DKI. Memang masih wacana tapi hal ini sangat meresahkan para pengguna motor di DKI.

Bagaimana tidak? Motor sudah menjadi penyelamat mobilitas di zaman susah ini. Murah, irit, dan juga relatif lebih nyaman dibandingkan dengan mikrolet, metro mini, dan kawan-kawannya. Wajar saja bila banyak orang memilih kendaraan roda dua sebagai teman setia menembus rimba ibukota.

Karena memang jumlahnya banyak wajar bila selama ini motor menyemut di ibukota. Secara tidak langsung akan menimbulkan kepadatan memang, ditambah lagi dengan pengetahuan para pengendara soal safety riding yang minim. Ya tidak heran bila motor dicaci maki oleh pengguna jalan yang lain.

Lalu apakah pemerintah bisa dengan gampangnya berteriak, Batasi Motor??!! Wah perlu ditinjau ulang, sebenarnya pemerintah kita itu sudah berpikir masak-masak belum toh?

Menurut data yang saya ambil dari Motor Plus, 61% pendapatan asli daerah Jakarta didapat dari pajak kendaraan, artinya di sini motor juga berkontribusi. Nah dengan peran sebesar itu dalam menyumbang kas daerah apakah perlakuan “pembatasan” adalah sesuai?

Jawabannya tidak, kasarnya adalah: Gua dah nyetor duit elo malah ngelarang gua bawa motor. Heh macam mana pula kah ini? Pemerintah seharusnya, bila ingin serius dan benar-benar menuntaskan masalah harus memerbaiki segala sarana infrastruktur transportasi masal terlebih dahulu.

Kan sudah ada TransJakarta? Cukup tidak armadanya untuk menampung para pengguna motor? Jika tidak jangan harap mereka akan mau pindah alat transportasi, buang-buang waktu. Mikrolet, Metromini, Kopaja, Patas, dkk? Heh, lama nunggu ngetemnya, sempit, dan tidak nyaman, sebelum sampai kantor mungkin sudah lecek duluan.

Jadi? Ya silahkan memerbaiki infrastruktur, buat lahan parkir motor yang luas dan memadai di dekat halte Busway agar memudahkan pengguna motor mengakses. Juga armada harus ditambah. Angkutan umum lainnya juga harus diperbaiki jangan cuma jadi cumi-cumi yang selalu menembakkan asap hitam dan jadi tukang ngetem.

Nah kalau sudah begitu otomatis pengguna motor bisa berkurang. Jangan asal membatasi saja, anak kecil juga bisa kalau begitu. Memang para petinggi di atas itu anak kecil? Ya nggak donk???

Kategori:Motor
  1. p3ngamat
    September 22, 2008 pukul 7:10 pm

    lebih bro dibandingkan tulisan ini :

    Menurut data yang saya ambil dari Motor Plus, 61% pendapatan asli daerah Jakarta didapat dari pajak kendaraan, artinya di sini motor juga berkontribusi. Nah dengan peran sebesar itu dalam menyumbang kas daerah apakah perlakuan “pembatasan” adalah sesuai?

    Didaerah kedu, banyumas dan yogya “duit silumen” sam*at n pol*i PALING TINGGI SEINDONESIA RAYA !!!
    sumbangan siluman per unit motor paling kecil 400rebu dan paling gila di Cilacap n Majenang sampe 800rebu !!!

    koq kagak ada ya yg bokapnya di KPK untuk mengusut duit2 siluman seperti ini ya … berharap banyak …. pray ::mode on::

    piss ahh

  2. p3ngamat
    September 22, 2008 pukul 7:16 pm

    tapi hasilnya bagi pembangunan kagak ada, yang ada jadi mangsa koruptor di sam*at n pol*i

    walau motor “penyumbang” paling tinggi untuk pajaknya … tapi tidak ada pelayanan lebih / prasarana jalan yang laik didapatkan … jalan tetep aja berlobang, bergelombang, rambu n traffic light mati … akhirnya kecelakaan .. mate dech ..

    piss lagi ahh …

    DICARI :
    anggota KPK yang nau ngurusin “biaya siluman” di sam*at dan pol*i …. ntar tak kasih info lebih lanjut …

  3. esemelekete
    September 22, 2008 pukul 7:33 pm

    pemerintah.. gebelek… munafik bin kemplu..

  4. September 22, 2008 pukul 9:14 pm

    coba perhatiin beberapa minggu belakangan, menurut catatan ik, dah beberapa kali dimuat di harian ibukota, salah satunya headline, motor adalah “killer machine”. Kyknya pemerintah mo mensosialisasikan angkutan umum tapi nyerangnya ke motor. Menurut ik sih, gak perlu lah membesar2-kan motor sebagai “killer machine” kalau dilihat angka, mungkin memang iya banyak kecelakaan motor, tapi kalo dihitung presentase mungkin setara dengan jumlah kecelakaan mobil.
    Kalau dicermati lagi, angka kecelakaan motor akhir2 ini naik karena apa ? kalo di ibukota sih jelas banget ! gara2 ada jalur Busway yg kurang rambu2-nya
    Temen ik aja udah berapa orang yg menghajar jalur busway, jatuh gara2 ada balok pembatas yg lepas dan ada jg yg jatuh gara2 kepepet truk besar dan “terpaksa merebahkan diri” di jalur busway.
    Daripada keinjek truk mendingan jatuhin diri di jalur busway katanya

    dah bingung kali pemerintah, jadi cari solusi jangka pendek aja, yg gampang dan berpeluang “menghasilkan” alias proyek baru..🙂

  5. September 22, 2008 pukul 10:04 pm

    Sakit hati kale karena motor produksi nasional ga laku, dulu jaman motor “garuda” dan sekarang motor “k****n”.

  6. September 22, 2008 pukul 11:22 pm

    gpp mongtor di kurangin,..

    siapa tau ntar mongtor yg sekarang 10 tahun lagi jadi barang langka trus jadi buruan kolektor dah..

    Peace,..

  7. September 23, 2008 pukul 3:11 pm

    nggak lah gak bakalan, roda brekonomian bisa hancurlebur karena masalh ini

  8. MX135LC
    September 25, 2008 pukul 1:23 pm

    Hmm..maksudnya kepemilikannya yg dibatasi ato produksinya ya…??

  9. Abon Sapi
    September 26, 2008 pukul 2:29 pm

    kayaknya lebih enak batasi mobil kali ya😉

  10. radix
    September 26, 2008 pukul 9:13 pm

    pembatasan yg dihasilkan dari otak yg terbatas.. sorry 2 say..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: