Beranda > Hasil Pemikiran, Informasi, jalan-jalan, Motor, Pengalaman, Refleksi dan Berpikir > Ah Jangan Berprasangka Buruk laaaahhh

Ah Jangan Berprasangka Buruk laaaahhh

Sedikit berbagi pengalaman yang ternyata sangat reflektif. Ini terjadi beberapa waktu yang lalu, tidak terlalu lama. Di sini saya jadi malu sendiri akan sikap saya akan seseorang, ternyata yang namanya berprasangka buruk tak selalu benar, malah bisa membuat stress. Begini ceritanya…

Suatu sore hari Sabtu saya jalan-jalan naik motor saya tercinta. Tak terasa matahari sudah tenggelam separuh, perut saya berbunyi minta diisi. Setang motor saya belokkan ke satu warung makan yang sudah sering saya kunjungi kalau malam minggu. Tempat itu memang ramai, selalu ramai bahkan, tidak pernah saya mendapatkan tempat parkir dengan mudah, pasti harus nyempil-nyempil.

Kali ini saya terpaksa memarkir motor dengan sulit, posisi setang tidak bisa saya tekuk ke kiri. Alhasil saya tidak bisa mengunci setang. Was-waslah saya, bagaimana bila tunggangan saya yang tercinta ini diambil orang, dibawa lari, dan… anda tahu sendiri. Nah jujur saja saya ragu-ragu, apakah saya makan di tempat lain atau saya teruskan? Ah berhubung saya sudah parkir di situ kok rasanya tidak enak bila saya tiba-tiba pergi ke tempat lain, kesannya kok membuang rejeki orang…

Dengan rasa gundah saya melangkah masuk ke ruangan. Sengaja saya pilih tempat duduk yang agak di luar supaya saya bisa memantau motor saya dengan mudah. Apalagi saya melihat orang-orang nongkrong di dekat parkiran, kesannya kok menakutkan ya, siapa tahu nanti motor saya diapa-apakan.

Dan hasilnya selama saya makan saya terus was-was, tapi entah bagaimana caranya, saya lupa dengan motor saya dan menikmati makanan dengan lahap, maklum lapar. Dan untunglah saya lupa akan motor saya, masak saya sedikit-sedikit melihat keluar, kan aneh…

Selesai makan, membayar, saya baru ingat motor saya. Cepat-cepat saya keluar menuju parkiran. Ah ternyata yang saya lihat sungguh bertolakbelakang dengan apa yang saya takutkan…

Motor saya sekarang sudah diparkir rapih bersama motor-motor lainnya, berjejer dengan teratur. Nah ternyata prasangka saya akan orang-orang yang diluar salah, karena justru mereka itulah yang mengatur motor-motor tersebut. Tambahan lagi ketika saya mencoba untuk membayar mereka menolak dengan halus, sudah tugas mereka katanya…

Di sini saya mendapat pelajaran, ternyata yang namanya curiga, tak selalu baik. Kalau saya masih terus-terusan was-was karena motor saya tentu saya tidak bisa menikmati makanan dengan tenang, dan lagi saya ternyata salah prasangka dengan orang-orang yang justru melakukan hal yang baik buat saya…

Semoga banyak orang-orang seperti itu di dunia ini…

Iklan
  1. mang ujoo keneh
    September 19, 2008 pukul 1:21 pm

    iiikhh, lagi lagiii… seppiii…!! gak ada yg ‘mo ngomentarin..

  2. esemelekete
    September 19, 2008 pukul 1:34 pm

    waspada itu perlu.. gak usah merasa bersalah.. dari pada lengah yang rugi malah kita sendiri…

  3. aRicK
    September 19, 2008 pukul 4:09 pm

    kata bro tukul : ‘don jaj a buk from its kaper’ hehe…
    PISS…

  4. p3ngamat
    September 19, 2008 pukul 6:48 pm

    seandainya bapak2 di DPR MPR seperti itu ….
    rakyat merasa aman dan ‘dilayani’ oleh mereka (kalo sekarang kan rakyat yang melayani anggota terhormat)

    piss ahh

  5. September 19, 2008 pukul 9:30 pm

    Di terminal bis dan stasiun kereta Bogor juga begitu Om, dilarang dikunci malah, soalnya pasti dirapihin parkir motornya

  6. gal120
    September 20, 2008 pukul 8:49 pm

    Gw sih kadang sengaja ngga kunci stang, daripada waktu dirapihin malah diseret2 (body belakang diangkat ato digeser paksa).. πŸ˜‰

  7. Oktober 9, 2008 pukul 8:44 pm

    salam kenal buat semuanya …

    klo gw dlm posisi spt itu, pasti gw akan pindahin motor dan makan di warung lain. bukannya apa2. motor beli susah-payah, klo ilang khan ngenes banget … hehehe.

    Bahkan walau ada tukang parkirnya sekalipun, tetep gw kunci stang + kunci roda + alarm. Emang kita bisa yakin klo tuh tukang parkir gak bakal (sori) kebelet, misalnya? πŸ˜€

    eniwei, nice blog, Om. gw tau dari blog-nya Mr.Momod di atas .. πŸ™‚

  8. Laksito
    September 2, 2009 pukul 8:33 pm

    qta nda’ perlu merasa nda’ enak, ko’, Mas Fanderlart. Penanggung jawab spda m0t0r qta, lha’e awa’e dewe, th0?! Waspada itu dibutuhkan, ko’ …. ning menuduh org lain tanpa bukti kuat, lhaaa , iq sing ngga’ ilo’ …. Sbgmana diajarkan oleh orgorg sepuh qta d Jawa dahulu, ” Sa’bej0bej0ne wong, si’ luwih bej0 wong sing iling lan waspodo …. ”
    Nabi Muhammad jg pernah, tuch, negur salah seorg sahabatnya karena sang sahabat nda’ ngikatkan kudanya pd tiang parkir kuda. Sang sahabat berdalih, “Khan, ane uda tawakkal k ALLah, yaa Nabi …. ” Nabi nimpali, ” yee , Eente, tu kuda diiket dulu, baru abis itu serahin k Yang Maha Kuasa …. ” ( Aduh, awa’qu lali perawi haditse he he ) ….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: