Beranda > Informasi, Lain-Lain, Motor, Refleksi dan Berpikir, Safety Riding > Prinsip Biar Lambat Asal Selamat Agak Salah

Prinsip Biar Lambat Asal Selamat Agak Salah

Bagi anda yang memiliki kendaraan bermotor pasti mengetahui prinsip ini kan? Seringkali di ucapkan oleh orangtua, para polisi, dan beberapa spanduk di jalanan. Sekilas prinsip ini sangat manjur mengatasi masalah keamanan lalulintas. Tetapi tahukah anda bahwa prinsip ini tidak 100% benar-benar manjur? Mari kita kaji ulang.

Biar lambat asal selamat, berarti mengutamakan keselamatan? Betul! Dan demi tercapainya keselamatan di jalan itu kita harus memacu tunggangan kita dengan kecepatan yang lambat? Di sisi lain berarti kita rugi waktu? Betul juga, tidak salah! Tetapi bagi beberapa orang rugi waktu tidak mengapa asalkan tidak rugi nyawa.

Tetapi tahukah anda bahwa memacu motor dengan kecepatan lambat tidak selalu aman? Apabila kita memacu motor di gang sempit tentunya kita harus menahan laju motor. Juga apabila kita mengendarai motor di jalan yang minim penerangan di malam hari, lebih baik kita melambatkan laju motor dan meningkatkan kewaspadaan.

Kasusnya adalah apabila kita melaju di jalanan yang padat oleh kendaaran. Ingat padat tak selalu macet, terkadang kondisi padatpun kendaraan masih bisa melaju agak kencang dan lancar. Pada saat itu bila kendaraan lain melaju dengan kecepatan 60 km/jam apakah kita bisa seenaknya melaju lambat katakanlah 40 km/jam? Tentu saja tidak, bisa-bisa kita malah membuat kendaraan di belakang terhambat, lebih parah kalau “kelambatan” kita ekstrim bisa-bisa kita malah disodok dari belakang.

Jadi apa yang paling baik untuk masalah ini adalah mengikuti laju kendaraan lain yang ada di sekitar kita. Maka akan tercipta lalu-lintas yang mengalir dan dengan demikian kendaraan lainnya tidak akan terhambat atau menyodok kita. Bila kendaraan kita tidak bisa menyamai laju kendaraan lain, yang paling baik adalah menggunakan jalur kiri, meskipun seringkali jalur inipun dipakai sebagai jalur ilegal untuk menyalip kendaraan lain, tempat strategis untuk dijadikan galian kabel, tempat ngetem angkot, dll…

Iklan
  1. Sepeda Onthel !
    April 11, 2008 pukul 12:50 am

    Wah…hebat yach si penulis.
    Prinsip Biar Lambat Asal Selamat Agak Salah….??
    Koment yach:

    Itu bukan PRINSIP, tapi Himbauan atau Peringatan, supaya Hati-Hati
    Jadi jangan diulas tentang kecepatan donk, pake contoh kasus segala, pake bawa-bawa waktu segala.
    Jalan kosong…yach di gas mentok.
    Jalan padat…digas mentok boleh kan…paling-paling MATI.
    digas setengah-sentengah…boleh kan…paling cuman dikata-katain ANJING LOE.
    ” Ngikutin laju kendaraan lain disekitar kita itu yang paling baik ?” Wah… sorry broo…

    BEGO LOE.
    hehehehe

  2. Oxygenic
    April 11, 2008 pukul 11:45 am

    Kalau keselamatan tidak hanya dilihat dari sisi kecepatan saja, misalnya dari segi kendaraannya itu sendiri “sehat” atau tidak (ex: rem, ban)dan dari segi pengendaranya dan atau penumpangnya jg bagaimana karena sekarang sudah banyak alat2x keselamatan standar untuk pengendara (helm, sarung tangan, sepatu, jas hujan, visibility vest, masker, dll)termasuk kesehatan pengendara (tidak sakit, tidak mabuk, dll). dari segi rambu2x lalu lintasnnya gimana, kan ada batasan kecepatan didaerah tertentu jadi kalau rambunya menandakan max 60KM ya kalau jalan kosong juga harus ditaati begitu juga sebaliknnya. yg bhs kerennya safety riding. jadi kalau prinsip biar lambat asal selamat itu kurang pas himbauannya, mungkin himbauannya bisa diganti “tertiblah ber-lalu lintas” atau ” taatilah peraturan lalu lintas” karena seperti yg saya tahu arti dari lalu lintas itu sendiri adalah sarana/tempat dimana sejumlah orang bergerak baik menggunakan alat penggerak(kendaraan) atau tidak.jadi orang jalan juga mesti taat n tahu aturan.

  3. fanderlart
    April 11, 2008 pukul 1:40 pm

    @ 1

    salah di mana?
    nanti kalau soal kesehatan kendaraan saya tulis

  4. fanderlart
    April 11, 2008 pukul 2:14 pm

    @ 1
    sekalian deh…
    kalo para pemakai jalan pada kenceng trus kita berhenti: ga apa2 soalnya kita sendiri berhenti diparkiran…
    hehe…
    intinya lihat2 keadaan…

    @ 2
    kalau soal himbauan itu saya setuju karena lebih universal artinya

  5. lucifercorin
    September 15, 2008 pukul 9:36 am

    yah pelan2 asal selamat itu tergantung…bukan selama perjalanan itu mesti pelan2,,, contohnya kalo lagi macet kita ga usah nyodok2 atawa nyalip2 bin nyodok kendaraan lain…terus ngehadapin jalan yang berlubang ato rusak…tapi kalo jalanan sepi penerangan cukup dan sudah tau ato hapal keadaan jalan, sah2 aja mentokin grip gas mongtor kita bro…bukan begitu????????????????

  6. Laksito
    September 2, 2009 pukul 8:54 pm

    Sepakat!

    “intinya lihat2 keadaan… ” sesuaikanlah diri kita dg sikon sekitar. Ngga butuh berlebihan namun jg jangan kekurangan.

    ben ae, Mas Fanderlart, Sepeda Onthel gurung ndue montor, be’e. 😉 Mugia sa’iq wis ndue.

    Ada ulasan mengenai hal serupa yg ditulis oleh jurnalis qta, Ary Damarjati, d Auto BiLd Indonesia edisi 165 hal. 70 – 71. “Aman di Jalan: Sunday Driver. Ranjau Berjalan “

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: