Beranda > Marketing, Motor > TVS Apache, seharusnya dari dulu

TVS Apache, seharusnya dari dulu

(gambar diambil dari www.thehindubusinessline.com)

Ingat, apa produk yang pertama kali diluncurkan oleh TVS di Indonesia? Yap, TVS Neo, bebek 110cc. Pertimbangan mengapa Neo yang diluncurkan terlebih dahulu adalah karena ingin membidik pasar bebek murah yang memiliki pasar yang menggiurkan di Indonesia. Tepatkah?

Sebenarnya ini strategi yang agak keliru mengingat TVS adalah pemain yang benar-benar baru. Nah sebagai pemain baru dia harus menanamkan imej yang kuat di konsumen. Seperti yang dilakukan Bajaj. Mereka tidak memasarkan motor dengan pasar yang besar, namun ke pasar yang lebih segmented.

Kasusnya di sini adalah TVS langsung mengeluarkan motor yang tidak berkarakter kuat. motor murah? Hampir semua pabrikan diIndonesia punya. OK imejnya adalah murah, tetapi untuk murah orang sudah berpikir negatif (ingat mocin ?) dan untuk motor murah orang Indonesia lebih memercayakan ke pabrikan Jepang, menurut mereka kualitasnya lebih terjamin.

Jadi TVS kehilangan peluang sebagai “penyelamat yang datang ketika orang butuh motor sport” saat pertama kali muncul di arena pertarungan. Ia malah datang dengan strategi “mencoba mencuri kue dari para raksasa” padahal ia hanya prajurit kecil nan kurus, ya susah…

Untung TVS segera melucurkan Apache 160 yang sudah diulassebelum ini. Dengan motor sport, imej lebih cepat terbentuk. Orang akan melihat sebagai pabrikan yang punya motor berperforma. Ingat juga Bajaj meluncur dengan Pulsarnya kini bisa disebut sebagai salah satu alternatif bila seseorang ingin membeli motor sport.

Dengan Apache, orang akan melihat TVS sebagai pabrikan “apa”. Dengan produk yang lebih segmented, TVS bisa lebih mudah menembus pasar. Orang-orang di pasar ini lebih cerdas dalam memilih motor, dan bila mereka menilai Apache memiliki nilai lebih, terbentuklah paradigma (dalam artian positif) dari TVS.

Tidak ada kata terlambat untuk berubah, kini TVS harus bisa berbenah dan menambah jaringan purna jual. Bajaj juga melakukan hal yang sama, langsung ngebut membentuk jaringan after sales. Ingat, jaringan purna jual adalah salah satu faktor terpenting bagi masyarakat Indonesia untuk membeli sebuah produk

Kategori:Marketing, Motor Tag:, ,
  1. Maret 28, 2008 pukul 12:10 pm

    pertamax
    emang betul ulasannya

  2. kenes
    April 2, 2008 pukul 7:38 pm

    Halo bung Fander, Google ads-nya tolong di follow up

  3. April 10, 2013 pukul 10:56 am

    Hi there, just wanted to say, I liked this article. It was funny.
    Keep on posting!

  1. Januari 25, 2009 pukul 9:12 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: