Beranda > Pengalaman, Refleksi dan Berpikir > Remidi ke Dua Fisika…Puas

Remidi ke Dua Fisika…Puas

Senin 3 Maret 2008 saya haru megikuti remidi kedua Fisika, berhubung ujian dan remidi pertama saya mendapat nilai yang mengkhawatirkan inilah kesempatan terakhir saya. Sebenarnya malam sebelum remidi saya tenang-tenang saja, tanpa belajar, tanpa khawatir akan kesempatan terakhir ini. Gila? Tidak karena rasa khawatir baru datang esoknya saat tiba di sekolah. Sebelumnya guru Fisika saya sudah berkata bahwa remidi akan dilaksanakan bila hari itu pulang awal. Bisa begitu karena ada Penerimaan Siswa Baru dan esok adalah hari pertama ujian mid semester. Peluang remidi 50:50.

Dari pada berharap bahwa tidak ada remidi hari ini, lebih baik saya langsung saja belajar, pukul rata semua kemungkinan. Buku catatan dan modul sudah disiapkan sebelumnya. Saya belajar dari saat sebelum sekolah dimulai, saat istirahat dan pelajaran Bahasa Inggris (pelajarannya hari itu kosong). Untungnya beberapa rumus memang sudah nyantol di otak karena sudah hapal, tiggal beberapa rumus yang belum dipelajari.

Namun seorang teman meminta catatan saya, dia juga sama-sama remidi. Pikir saya: Ini orang, minjem kok sama orang yang sama-sama butuh. Tapi hati nurani saya sih berkata lain, jadi saya pinjami buku catatan saya, toh saya masih bisa belajar dari modul.

Das…pengunguman berkata bahwa hari itu pulang awal, berarti ada remidi. Ternyata pikiranku tidak salah, strategi “belajar-apapun-kemungkinannya” berhasi. Tapi itu bukan akhirnya, nerakanya baru akan tiba. Setelah menata kursi untuk ujian mid besok, remidi menunggu.

Setelah mengunggu sekitar 30 menit (ada briefing Penerimaan Siswa Baru), baru guru Fisika datang dengan soal di tangan. Ada enam soa, termasuk banyak untuk sebuah remidi. Soalnya berupa pilihan ganda, namun harus tetap dikerjakan dengan cara essai. Berhubung kelas soalnya pilihan ganda, saya bisa agak lega, setidaknya bila jawaban saya tak ada di pilihan, saya tahu bahwa itu salah. Semua soal dikerjakan dengan enjoy, saya jadi heran, mengapa saya bisa sampai gagal di dua kesempatan sebelumnya. Tetapi tetap saja semua soal dihitung ulang berkli-kali, maklum kesempatan terakhir.

Setelah soal terakhir dikerjakan dan dihitung ulang, saya kumpulkan pekerjaan saya. Ternyata begitu saya berikan, dihitung langsung. Waduh, malah jadi tegang begini, nomor satu, dua, tiga…sampai nomor enam. Ternyata 75…tuntas, well memang berapapun nilainya, kalau remidi maksimal dapat 65 (untuk Fisika). Tetapi setidaknya tidak ada beban ketidaktuntasan lagi.

Soal persiapan yang memang busuk, harus saya koreksi lagi di kesemptan lainnya, sepertinya sistem kebut-kebutan bisa menjerumuskan untung saya bisa, kalau tidak? Yah, sepertinya lebih baik saya segera pulang, besok ada mid PPKn dan Matematika…

Iklan
  1. kenes
    Maret 15, 2008 pukul 8:46 am

    Memang sistem SKS spt itu selalu jadi trend anak sekolah.
    Padahal kalau dipikir-pikir lagi, adrenalin bisa habis karenanya dan hasilnya kalau lagi beruntung bisa selamet nggak remidi tapi yang lbh banyak sih jeblok-nya karena persiapannya nggak max.

  2. wonderboii
    Maret 24, 2008 pukul 10:03 am

    Coba gurunya Wartono, pasti ga akan memikirkan remidi yang macem-macem dan susah gitu….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: