Beranda > Cerpen, Hiburan > Kisah Cerpenis Part 2

Kisah Cerpenis Part 2

Teras, Cerpenis, dan Cerpen Tembus Pandangnya

Perkenalkan, nama saya Bambang Susanto, 23 tahun, aku memang sudah lulus kuliah setahun yang lalu, namun aku masih menganggur. Entah mengapa rasanya malas selalu menghinggapi diriku bila ingin melakukan sesuatu, kecuali untuk hal-hal tertentu. Ah, untung aku segera memperkenalkan diriku, biasanya aku malas untuk memperkenalkan diri, kepada tamu, kepada orang di telepon, dan bahkan kepada pimpinan perusahaan tempat aku melamar kerja untuk pertama dan terakhir kalinya.

Kalau aku bilang aku sedang malas, mungkin ini adalah saat dimana rasa malasku memuncak. Yah, duduk-duduk di teras rumah sewaktu sore hari, ditemani teh tawar panas dan singkong rebus (aku suka singkong rebus dan tak pernah lupa untuk membuatnya sebelum aku duduk-duduk di teras). Bila semuanya sudah disiapkan aku tinggal duduk di kursi di samping kiri meja dan mulai membaca atau mendengarkan musik lewat mp3 player.
Teras rumah ini memang teras rumah lama, rumah ini sudah berdiri sebelum bapak dan ibuku menikah, mereka membelinya dari seorang kolektor perangko yangsudah renta. Beberapa kali rumah ini direnovasi, tetapi entah mengapa renovasi tak pernah menyentuh teras ini. Segalanya masih sama seperti dahulu, kecuali meja dan kursi baru yang menggantikan bangku panjang yang sudah lapuk.
Banyak hal yang bisa diceritakan soal teras ini, banyak hal yang menarik yang bisa aku ceritakan. Tapi berhubung aku sedang santai, lebih baik nanti saja ya….Waduh aku menenggol cangkir teh sampai tumpah isinya. Wah mungkin saja ini sebuah pertanda buruk…ya sudah aku ceritakan salah satu kisah. Tetapi nanti ya, setelah aku membereskan tumpahan teh ini.

***
Singkong rebus dan dua cangkir teh kuletakkan di meja teras. Bapak sebenarnya tidak suka singkong rebus, tetapi berhubung keripik tempe kesukaannya sudah habis, ia terpaksa menerina usulku untuk makan singkong rebus di teras sambil memasang tampang cemberut. Apapun sikapnya saat ini, sepiring singkong rebus terlanjur mengepul indah di sampingku, mengundang selera makan, tetapi aku tidak boleh makan sebelum bapak menyentuhnya.
Itu memang peraturan yang dibuat bapak buatku. Dari dulu aku memang tidak menyukai bapak. Bisa jadi karena apapun pendapatku selalu ditetangnya sehingga kami sering berdebat, tentunya bila bapak sampai tahap marah aku hanya bisa diam dan mengekeret. Selain peraturan soal mengudap, masih ada peraturan-peraturan aneh lainnya, salah satunya ya soal duduk-duduk di teras ini sewaktu sore. Selalu dimulai pada jam 4 tepat dan tidak boleh telat. Cemilannya hampir selalu keripik tempe kesukaan bapak, dua cangkir teh tawar panas, dan aku diwajibkan duduk di sebelah kiri meja yang membatasi aku dan bapak. Lalu ia mulai berkelakar dan kadang berdebat denganku, soal politik, ekonomi, dan ide cerita yang baru saja ia dapatkan.
Ah lupa aku, bapak memang seorang penulis, bukan penulis buku atau artikel koran, bapak lebih suka cerpen. Ia menobatkan dirinya sebagai cerpenis angkatan tahun ’70-an. Tetapi sebagai cerpenis ia tak pernah mengirimkan cerpennya ke penerbit atau koran untuk sekedar dimuat. Katanya ia selalu ditolak dan kini ia lebih suka mengendapkan cerpen-cerpennya dan baru mengirimkannya bila ada momen yang pas. Katanya. Tetapi masalah utamanya bukan itu.
“Bicara dengan siapa kamu?” bapak tiba-tiba datang dengan membawa koran sore dan sebungkus keripik tempe. Posturnya memang tinggi besar, kali ini ia memakai sarung yang terlihat kekecilan karena menggantung tinggi di atas mata kakinya. Ia memiliki berewok tebal dan rambut panjang yang senada. Rambutnya sering diikat dengan karet gelang. Sekilas ia memang memiliki tampang seniman.
“Pak, itu keripik tempe…”
“Jawab dulu!” bapak duduk di kursi dan membuka koran sorenya, mengambil keripik tempe dari bungkusnya dan mulai membaca, kelihatannya.
“Eh…” aku berpikir menemukan jawaban yang tepat, namun sekonyong-konyong ilham mengalir dari pikiranku yang buntu dan berkata, ”Bicara dengan angin dari utara.”Yah aku merasa selamat, bapak memang suka dengan kata-kata puitis dan…sial! Rupanya aku lupa membawa bacaan, terpaksa aku duduk bengong di sini menunggu bapak selesai bersantai. Aku memang tidak boleh pergi sebelum bapak selesai, peraturannya yang bicara begitu.
“Kamu meniru…”aku tidak mengerti apa yang bapak katakan namun kata-kata berikutnya yang menerangkan.” Kamu meniru tulisanku di cerpen ‘Rumah’ aku ingat betul itu, meski aku tak tahu apa kau bisa membaca cerpenku, tapi aku yakin.”
“Saya membuat kata-kata itu sendiri.”
“Bicara apa kamu?”
“Sumpah pak! Sumpah!”
“Weleh…weleh anak sekarang memang sudah berani bersumpah. Yah kamu itu anak penulis, memang, tapi kamu tak punya fantasi, imajinasi, tak punya kreasi! Aku tahu benar akan hal itu. Makanya aku yakin kamu pasti meniru!” bapak melipat koran dan menaruhnya di pangkuannya. Kali ini ia sudah siap berdebat, memang khas bapak, ia selalu membereskan segala sesuatu yang dapat mengganggu perdebatannya, dan kali ini sepertinya mesin siaga penuh! Perdebatan kali ini sepertinya akan seru. Aku tahu terkadang tetangga mengintip dari balik pagar untuk melihat kami beradu argumen. Kami tidak malu, darah kami sudah panas dan muka kami setebal kulit badak.
“Kamu ingat seberapa sering kamu menulis? Berapa nilaimu dalam pelajaran mengarang? Meski aku yakin guru Bahasa Indonesiamu tidak memiliki rasa seni yang tinggi sepertiku, tapi aku yakin ia cukup kompeten di bidangnya. Kau bahkan tidak bisa menyentuh hati orang awam seperti gurumu, apalagi menyentuh hati orang-orang sepertiku? Sekarang kamu bilang kamu yang membuat kata-kata itu? ‘Bicara dengan angin dari utara’, itu karyaku, ciptaanku, milikku, MILIKKU!”
Wajah bapak memerah, aku tahu dia sedang marah. Tensinya memang sering naik belakangan ini apalagi bila erdebat di teras ini. Ibu pernah mengusulan untuk menghilangkan kebiasaan duduk sambil berdebat di teras ini, dan tentunya berakhir dengan bentakan yang dihadiahkan khusus buat ibu.
Segera saja langkah mundur aku ambil, aku tidak bisa menyerang bapak dengan keadaan seperti ini, terlalu beresiko. Bapak bisa berbuat kasar bila marah. Meskipun sebenarnya aku anak yang pemberani di kalangan teman-temanku, soal berhadapan dengan bapak yang sedang marah itu lain lagi. Bapak terlalu kuat, terlalu, agung, terlalu tinggi untuk dikalahkan saat ini, seperti memandang gunung tinggi yang puncaknya diselimuti awan.
“Well, anakku yang baik, kamu mau bicara apa lagi? He, kamu kehilangan kata-kata rupanya! Ayo bicara lagi dan aku bisa menyanggah apapun perkataanmu tepat dijantungnya! Kenapa? Kau kehilangan pedang, ayo! Kamu mau membela dirimu sendiri? Atau kamu tak pernah diajari cara berdebat, mematahkan argumen lawan, meraih kemenangan? Ah, ya! Sebagai anak bodoh memang wajar saja, kamu itu batu yang tak bisa menyerap air! Sudah berapa kali kamu tidak naik kelas? Empat kali! Dan itu cukup bagiku untuk memasukkanmu ke sekolah anak nakal atau anak idiot! Tapi aku tidak melakukannya, mungkin aku memang terlalu baik, memang, tapi sekarang! Kau yang di hadapanku, anakku yang baik, mejelma sebagai pembohong, pencuri ide, koruptor pikiran, perampok kata-kata…”
“Setidaknya aku lebih baik daripada bapak!”
Sesaat hening, angin tidak bertiup, burung-burung berhenti berkicau, seakan menunggu aku untuk kembali berbicara. Sesaat kemudian aku sadar, aku telah melakukan hal yang mengerikan, membantah bapak sewaktu marah sama saja dengan masuk ke kandang macan. Tetapi…
“Alasanmu? Apa alasanmu berkata demikian?” bapak bertanya dengan nada tenang, bukan membentak seperti sebelumnya, tetapi tetap saja menekan.
“Mungkin…” seharusnya aku memikirkan kata-kata yang lebih bijaksana, namun kata-kata yang meluncur begitu licin dan deras seperti sudah mengendap sebelumnya lalu diding penahannya bocor seperti ban yang tertembus paku.”Yah mungkin saja bapak adalah orang yang paling tinggi, terhormat, dan agung di rumah ini. Tetapi aku tidak bisa menghargai orang yang membiarkan istrinya menghidupi keluarganya dengan bekerja sebagai tukang setrika sementara dirinya menyombongkan diri sebagai penulis angkatan ’70-an yang begitu kreatif dan produktif. Padahal…padahal….Padahal dirinya tidak pernah menulis selembar cerpenpun apalagi mengirimkannya ke penerbit. Bapak memang mengetik namun tak pernah aku melihat bapak memasukkan kertas ke mesin tik! Bapak hanya seperti anak kecil yang baru saja mengenal benda yang namanya mesin tik dan tidak tahu benda itu digunakan untuk apa, seenaknya memencet tombol-tombol seperti mainan! Konyol! Dan lebih konyolnya lagi bapak membanggakan diri sebagai penulis yang memiliki stok cerpen yang sudah mencapai ratusan judul dan. Meski bapak bilang ‘mereka kusimpan di samping tempat tidur, di dalam brankas, untuk menemani tidurku’ nyatanya tidak ada selembar kertas berisi cerpen bapak di rumah ini. Intinya bapaklah si pembohong itu, pendusta!”
Terengah-engah, mungkin karena aku jarang menyampaikan unek-unek dengan begitu menggebu. Setelah aku merasa agak tenang aku meraih cangkir teh yang rupanya sudah dingin. Setelah aku merasa tenang kucoba untuk menatap bapak, aku heran kenapa bapak tidak menjawab, tetapi ternyata setelah aku meluapkan unek-unekku nyaliku kembali ciut.
Setelah sekian lama bunyi derit kursi di sebelahku menandakan bahwa bapak sudah pergi masuk ke rumah. Seharusnya aku sudah boleh masuk ke rumah dan mandi, namun aku lebih memilih duduk lebih lama di sini, merenungkan sikap bapak yang aneh menurutku dan berbagai pertanyaan lainnya. Dan rupanya aku belum menyentuh singkong rebus kesukaanku kucomot satu diantaranya.
Ternyata singkong rebusku sudah dingin.

***

Yeah, cerita ini tidak berakhir di sini tentunya. Ceritanya masih panjang, dan tentunya singkong rebus tetap menemani. Yah singkong rebus tentunya teman sejati di saat seperti ini. Aku memang tidak tahu apa kandungan dalam singkong yang bisa membuat orang seperti aku mengendalikan mood.
Kembali ke cerita, esoknya aku kembali duduk di teras, kegiatan yang sama dengan kemarin sore…

***

Kali ini sudah satu jam aku menunggu, keripik tempe dan dua cangkir teh panas memang sudah terhidang, aku juga sudah lapar karena dari tadi siang aku belum makan, pulang sekolah langsung tidur dan terbangun oleh suara ibu. Aku terbangun lima menit sebelum jam empat, segera kuganti baju seragam yang belum kulepas dari pulang sekolah dan rambutku masih acak-acakan.
Tapi ini terlalu lama, aku tahu bapak bukan tipe orang yang suka menyianyiakan waktu. Bahkan inilah pertama kali bapak terlambat. Aku memang sudah lupa sejak kapan aku diwajibkan duduk di teras rumah ini. Dua tahun? Tiga tahun? Ah lebih, jauh lebih lama…
“ Bicara dengan angin dari utara lagi?”
Bapak sekonyong-konyong datang membawa…bukan koran sore tetapi tas hitam yang penuh debu. Bapak duduk, menaruh tas itu di bawah kursi, mengambil keripik tempe dan mulai makan.
“Maaf menunggu, aku harus mencari barng khusus buatmu mungkin ini jawaban yang tepat untuk argumenmu kemarin sore.”
“Bapak menganggap kemarin itu aku berargumen?”
“Kemarin kita berdebat, dan perkataanmu kemarin, di teras ini, adalah salah satu argumen dalam perdebatan tersebut.”
“Lalu?”
“Biar kujawab, tapi sebelu itu aku mau bertanya dulu” bapak tersenyum, senyum simpul. Seperti inikah sikap bapak? Jawaban atas argumen? Bahkan bapak yang begitu kasar sewaktu marah bisa berkata begitu? Berdebat? Dan tak lebih dari itu? Baiklah sejauh mana ia bisa objektif? Sejauh mana ia sportif?
“Sejauh mana kau tahu pekerjaanku? Yah kemarin kau bisa berkata bahwa aku ini cerpenis tanpa karya dan macam-macam lagi, oke sekarang beritahu aku!” Nada-nada bapak memang tenang tetapi bukan tenang mencekam seperti kemarin, tenangnya kali ini mengalir tenang, halus dan licin.
Berkebalikan denganku, kata-kataku tertahan di leher saat ini. Aku tak bisa berbicara sepatah katapu, aneh padahal kemarin begitu lancarnya aku berkata-kata. Saat ini kata-kataku seakan tertahan, mengendap jadi kerak di tenggorokanku.
“Eh, bapak memang cerpenis, bapak memang penulis, namun bapak tak pernah membuat satu cerpenpun, selembarpun tidak.”kata-kataku meluncur tertahan, terbata-bata, mugkin kata-kata sudah banyak kuhabiskan kemarin, sekarang, aku tak punya kata-kata lagi.
“Padahal kemarin kau begitu buas, sekarang malah melempem!” bapak mengambil satu keripik tempe lagi dan mengunyahnya sebelum melanjutkan omonganya yang terpotong kebutuhan akan keripik tempe.”Rupanya anakku ini tidak tahu-menahu akan bapaknya. Tak heran sih, aku juga tak berharap semua orang bisa membaca cerpenku. Atau memang aku mengharap demikian.”
“Maksud bapak?”
“Aku ini orang yang perfeksionis, akan makanan, istri, anak, rumah, dan juga cerpen buatanku. Aku tak mau cerpenku Cuma jadi sampah, cerpenku itu karyaku. Yah intinya aku tak mau cerpenku dibaca oleh orang-orang sampah! Cerpen yang dibaca oleh orang-orang sampah akan menjadi cerpen sampah pula! Mau tak-mau aku perlu kontrol, kontrol akan setiap cerpen karyaku.”
“Lalu?”
“Yah tentunya, aku punya cara tersendiri untuk menyaring pembaca. Kubuat ceritaku jadi tembus pandang, kutulis dengan tinta tembus pandang, di atas kertas tembus pandang. Tinta ajaib dan kertas ajaib, begitu aku menyebutnya meski aku tidak tahu apa ada orang lain selainku yang menggunakan metode ini. Cukup efektif.”
“Tetapi bukan itu masalahnya…”
“Tolong jangan sela aku sewaktu bicara, tertuama saat ini. Ini penting, aku perlu merubah paradigmamu akan diriku, aku ini cerpenis, sejati dengan karya-karyanya.” Bapak bicara begitu tanpa menoleh kepadaku, tangannya bergerak-gerak sewaktu bicara, menghentak setiap tempo yang ia tentukan, menegaskan setiap suku kata yang ia ucapkan.”Biar kuberi tahu, setiap orang yang mendengar cerita ini menganggapku gila, dan itulah anakku, itulah! Orang seperti itulah yang kucoba kusaring, mereka tak punya mata batin, untuk mempercayai orang yang tulus ingin memberi, ingin melayani. Kupersembahkan kepada mereka karya dariku dengan tulus ikhlas. Tetapi mereka menolaknya dan aku dianggap gila, terlalu eksentrik, seniman sinting. Dan mereka tidak sadar mereka kehilangan kesempatan untuk membaca ceritaku, tinta cerita tembus pandangku tak akan membeberkan karyaku kepada orang-orang seperti mereka.”
Baru kali ini bapak bicara yang tidak masuk akal, baru pertama kali ini! Bapak sudah gila rupanya, tak bisa dipercaya kata-katanya. Meski aku bodoh, empat kali tidak naik kelas, aku juga tahu, kertas tak mungkin tembus pandang, apalagi tinta, apalagi dia menamakannya tinta dan kertas ajaib. Bah, ini bukan dongeng, ini kenyataan dan kenyataan tidak bisa menerima pola pikir dongeng. Biarlah kata bapak, orang yang tak percaya tak bisa membaca karyanya. Aku mengakui aku benar, bapak yang aneh!
Tapi sejak kapan bapak seperti ini? Sejak kemarin sore, saat aku berbicara berapi-api di depan bapak? Atau sejak ia bangun pagi ini? Atau mungkin sejak dulu dan baru kali ini dia menampakkan kegilaannya di depan anaknya sendiri? Tapi begitu banyak kemungkinan, aku sendiri heran dengan kata-kata bapak tadi.
“Lalu anakku, ini kuharap bisa dijadikan bukti dan penyanggah argmenmu semalam!” Bapak mengeluarkan tas dari bawah kursi dan seperti mengeluarkan sesuatu yang tak terlihat dan menaruhnya di meja.”Cerpen ini! Cerpen pertamaku, ditolak oleh majalah remaja, kutulis ulang sewaktu aku baru pindah dengan ibumu ke rumah ini.” Bapak menunjuk-nunjuk sesuatu yang tak terlihat di atas meja.”Kupilih untuk kutunjukkan kepadamu karena kupikir ceritanya cocok, bacalah, tapi ingat! Kamu harus percaya kepadaku, memiliki hati yang tulus untuk menghargai karya orang lain, untuk menghargai karya bapakmu sendiri!” Lalu bapak pergi masuk ke dalam rumah.
Aku masih bengong, bapak sudah gila. Ini dunia nyata dan apa yang dikatakan bapak lebih tepat ditulis dalam karya sastra jaman dulu. Aku menggaruk-garuk kepala dan bangkit berdiri, dalam hatiku berkata semoga besok pagi bapak terbangun dalam keadaan “normal”, membentak-bentak, dan bicara dengan lebih realistis.
Aku bersiap untuk membereskan cemilan keripik tempe yang belum habis dan teh yang sama sekali tidak disentuh bapak. Namun saat menyentuh pinggiran meja aku merasa ada sesuatu yang tak terlihat menyentuh tanganku. Kucoba meraba meja dan mencoba menemukan sesuatu. Dan memang ada sesuatu di situ, tidak terlihat tapi bisa kurasa. Kucoba mengangkatnya, agak sulit mengingat aku tak bisa melihat wujudnya, kuterka bend misterius apakah itu.
Kertas! Dan aku yakin akan hal itu, bentuknya, teksturnya, beratnya, dan bahkan bukan selembar kertas, beberapa kertas tak terlihat ada di tanganku. Aku tak bisa melihat fisiknya, tetapi aku yakin siapapun yang menyentuh benda misterius ini yakin bahwa ini kertas.
Inikah cerpen bapak, tapi aku tak bisa melihatnya, apalagi membacanya, aku percaya dengan bapak sekarang, tetapi apa yang membuatku tetap tak bisa melihat cerpen bapak?
“Kalau belum bisa melihatnya coba kau renungkan lagi, mungkin masih ada ketidakpercayaan dalam dirimu!”
Bapak berseru dari dalam rumah.

***

Yah cerita ini selesai sampai di sini dulu, aku sudah capek bercerita, aku ini bukan juru cerita. Yah aku sudah mulai mengantuk, lebih baik aku membereskan cemilan dan tidur. Tidur bisa mendatangkan ide-ide segar bagiku untuk menulis cerpen.
O ya, hampir lupa, aku memang suka menulis cerpen, tidak produktif memang, hanya beberapa judul dalam setahun. Tetapi tentunya aku menulisnya dengan tinta dan kertas biasa.

Iklan
Kategori:Cerpen, Hiburan Tag:
  1. hehe
    Februari 17, 2008 pukul 1:22 am

    anak muda itu tiba-tiba berdiri. mau diapakannya toblol itu, entahlah. nameun ia mencoba untuk berpikir bagainana cara mengatasi sesuatu dalam dirinya saat itu
    ###########################
    badanku ringan…seakan aku tak bertubuh. aku bisa saja terbang ke ujung ruangan ini dengan sekali loncatan. otakku seakan tak bisa memikirkan apapun.
    ***************************************
    Pak ShinO tiba-tiba membentakku tanpa aku tahu apa sebabnya.
    ^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
    kunci pintu tak berfungsi! Apa ini?
    %%%%%%%%%%%%%%%%%%
    Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku sesaat barusan?
    00000000000000000000000000000000
    kiki tiba-tiba juga marah padaku! padahal tadi malam…

  2. nund_nonnie
    Februari 17, 2008 pukul 9:53 am

    ra jelas….sedikit gimana yah…
    cob aliat lagi latar yang anda pilih dan bndingkan dengan alur cerita yang anda tulis…

    GBU…

  3. Yovie
    Maret 5, 2008 pukul 11:25 am

    Menurut saya……^^
    ada sedikit keganjalan di bagian awal…
    Penggunaan kata “saya” dan kata “aku”…..
    bila anda sebagai penulis menuangkan cerita anda..ada baiknya pengenalan diri menggunakan kata “saya”……..
    akan terkesan lebih formal dan menghormati…..
    Terutama bila tokoh utama bercengkerama dengan tokoh lain yg lebih tua darinya…
    misalnya: Bapak,Ibu,Paman,Bibi,dlsbg…
    secara keseluruhan jalan cerita cukup menarik….
    Agak sedikit klasik dan mengikuti keadaan jaman……..
    sedikit masukan,
    labih baik lagi bila dalam adegan flashback disendirikan……
    anda menggunakan alur campuran……..
    namun alur campuran ini masih kurang pas………
    Akan lebih baik bila dalam pembukaan anda mengeluarkan pembukaan,Flashback,lalu penutup yg benar-benar mengakhiri kisah tersebut………

    selamat mencoba……….^^

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: