Beranda > Hasil Pemikiran, Refleksi dan Berpikir > Refleksi Live In (hari 2 dan 3)

Refleksi Live In (hari 2 dan 3)

Sebelumnya saya minta maaf karena saya harus menggabungkan kedua pengalaman di hari yang berbeda, hal ini saya maksudkan karena kedua hari tersebut memiliki inti yang hampir sama. Maka dari itu saya memutuskan untuk menggabungkannya.

Pada hari ini ada hal yang sangat penting, saya mengalami keadaan yang sangat tidak mengenakkan. Pada pagi hari saya membantu bapak pergi ke ladang yang letaknya jauh untuk mengambil pakan sapi. Sampai di rumah saya langsung mandi, sebuah tindakan yang bodoh karena saya masih dalam keadaan yang berkeringat dan panas. Saya tertidur dan saat terbangun saya merasa demam dan minta obat.

Tentunya saya tidak bisa banyak ikut kegiatan dan harus beristirahat, menyebalkan memang namun apa daya. Keadaan tidak bertambah baik terutama seteah saya tidur saya “terbangun” dalam keadaan tidak sadar dan berlari sambil meracau yang tidak jelas. Saya tidak ingat dan benar-benar bingung, saya sadar saat berada di ruang tengahrumah dan sudah banyak orang. Setelah menenangkan diri saya kembali tidur.

Esoknya saya harus kembali beristirahat, tetangga berdatangan dan memberi saya nasihat agar tidak ke mana-mana dahulu. Namun saya tidak menaati nasihat itu karena saya pergi ke pantai bersama dengan teman-teman. Merasa lebih sehat saya pulang dan mendapati tubuh saya kembali panas. Segera saya istirahat kembali namun malamnya kebali saya mengigau namun kali ini tidak terlalu parah.

Namun bukannya saya tidak belajar di sana. Keluarga tempat saya tinggal begitu perhatian saat saya sakit. Mereka tidak memperlakukan saya seakan-akan saya adalah orang asing yang datang bertamu ke rumah, bukan, mereka memperlakukan saya seperti anak sendiri. Begitu juga dengan tetangga yang dengan senang hati mu mengunjungi saya saat saya sakit. Begitu erat hubungan mereka dengan orang lain.

Saya belajar bagaimana seharusnya berhubungan dengan orang lain itu. Di desa semuanya dianggap saudara sendiri, tidak terkecuali orang baru seperti saya. Di kota hubungan tersebut sudah sering terlupakan, kita seperti hidup dalam kotak kaca yang tertutup rapat, kita bisa melihat orang lain namun kita tidak bisa berinteraksi dengan orang lain secara lebih mendalam.

Tamat…

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: