Superioritas IPA

  • Tulisan ini memang saya dedikasikan bagi anak-anak kelas 10 SMA yang akan segera mengalami yang namanya penjurusan semester kedua ini. Penjurusan adalah sebuah momen penting bagi seseorang yang akan melangkah dalam karir di kemudian hari. Jurusan yang umum terdapat di sekolah di Indonesia adalah IPA dan IPS (biasanya ditambah dengan jurusan bahasa ataupun pengembangan jurusan).

Lalu apa yang jadi masalah? Masalahnya di Indonesia, jurusan sering disalahartikan menjadi ukuran kemampuan intelektual siswa. Siswa yang masuk IPA dianggap mempunya otak yang lebih encer ketimbang siswa jurusan IPS. Parahnya lagi terkadang kebijakan sekolah juga medukung paradigma masyarakat seperti ini seperti masalah fasilitas, pengadaan guru, maupun kebijakan intern lainnya.

Para siswa-pun seperti ‘setuju’ akan paradigma seperti ini. Para siswa IPA seperti merasa sebagai kaum superior, melakukan pelecehan bagi para siswa IPS. Contoh yang saya ingat adalah tawuran antara siswa IPA dengan siswa IPS di salah satu SMA. Jelas ini adalah akibat dari gap dan ‘aturan’ diskriminatif yang berkembang di kalangan siswa.

Keadaan akan bertambah miris bila kita melihat bahwa selama ini sebagian besar perguruan tinggi dalam negeri membuka pilihan jurusan yang lebih luas untuk para calon mahasiswa dari golongan IPA. Contoh utama adalah siswa kelas 12 IPA bisa masuk ke jurusan ilmu ekonomi (yang notabene adalah porsinya IPS). Sedangkan bagi siswa IPS cuma bisa gigit jari karena tidak bisa masuk ke ‘wilayah’ IPA.

Seharusnya jurusan tidak diperlakukan sebagai alat ukur ‘kadar kepekatan’ otak siswa. Jurusan adalah sarana pemfokusan porsi pembelajaran agar ilmu yang masuk menjadi fokus dan efektif SESUAI DENGAN KEINGINAN DAN KEMAMPUAN SISWA. Ya, inilah arti sebenarnya dari istilah penjurusan. Paradigma seperti inilah yang dapat membangun manusia masa depan yang lebih bermutu.

What’s the solution? Karena setiap masalah butuh yang namanya solusi, maka inilah solusinya:

  • Aturlah supaya jurusan dalam perguruan tinggi sesuai dengan jurusan dan porsi pembelajaran siswa.
  • Perbaikan sistem pendidikan yang diskriminatif (masalah fasilitas, guru, uang sekolah) mutlak harus dilakukan.
  • Ubah paradigma masyarakat lewat pertemuan orang tua siswa, penyuluhan, maupun cara lainnya.
  • Terakhir tapi yang terpenting adalah mulai dari diri kita sendiri, bagaimana cara kita memandang sebuah penjurusan.

Yah itu saja, semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kelanjutan negeri yang carut marut ini.

GBU

by Fanderlart

  1. bimo
    Januari 11, 2008 pukul 8:21 am

    yak saya setuju ul!
    tetapi,kebanyakan anak JB masuk IPS bukan karena tertarik pelajaran IPS tapi takut pelajaran IPA. tapi menurutku kamu benar kok ul jurusan bukan ukuran kemampuan intelektual. tapi ul kalo masalah jurusan di universitas kan memang seperti itu, mosok anak IPS suruh bisa masuk teknik? yo ra mungkin! kalo anak IPA masuk ekonomi masih mungkin… tapi mosok itu wae dipermasalahkan, anak masuk IPS ya pastinya pengen masuk jurusan univ yang IPS. kalo dia pingin masuk jurusan univ yang ipa pastinya dia masuk IPA dong!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: