Maaf Blog Libur Dulu Buat Dua Minggu
Karena ada kerjaan penting yang harus diselesaikan jadi blog saya tinggal dulu buat dua minggu ini. Tapi kalau keadaan memungkinkan saya akan post beberapa artikel…
Karena ada kerjaan penting yang harus diselesaikan jadi blog saya tinggal dulu buat dua minggu ini. Tapi kalau keadaan memungkinkan saya akan post beberapa artikel…
Yuk mari kita berandai-andai lagi masuk ke alam mimpi, seandainya memang motor nasional bukan lagi mimpi…
Wacana alih teknologi sudah diterapkan, pemerintah sudah support, para praktisi sudah berembuk, motor nasional sudah mbrojol, konsumen Indonesia dapat mainan baru. Lantas apa? Apa yang bisa kita lakukan dengan si motor nasional ini? Sebab tanpa konsumen segala proyek dobosan ini cuma jadi peserta penggembira pasar yang akhirnya kalah juga…terus? Read more…
Kalau di postingan saya yang sebelumnya saya ndobos soal Alih Teknologi vs Gotong Teknologi, kita perlu tahu strategi para praktisi industri dan pemerintah soal eksistensi motor nasional
Diandaikan para praktisi sepakat untuk alih teknologi, maka sekarang kita butuh strategi supaya alih teknologi bisa berjalan dengan mulus. Pemeran penting dalam pengadaan motor nasional salah satunya adalah para praktisi dan pemerintah.
Strategi para praktisi
GEA, Komodo, Kancil, Tawon…apa lagi? Semuanya adalah impian mobil nasional yang kini sedang santer beritanya. Harapan menyeruak, akhirnya Indonesia bisa bikin mobil sendiri…tetapi… Anda perhatikan tidak ada satupun dari prototipe mobil-mobil ini yang setidaknya layak jual, masih mentah tidak layak dilempar ke pasaran mengingat kualitas rancang bangun yang masih seadanya. Read more…
Dua istilah di atas saya pakai karena ndak ketemu padanannya, tapi yang penting penjelasannya… namanya juga ndobozzz…
Lanjutan dari part 1 kali ini dobosan saya bercerita tentang perbedaan antara alih teknologi dan gotong teknologi. Yang satu membantu proses menuju proyek motor nasional yang satu menghambat. Apa sih beda keduanya???
Pabrikan motor Jepang sudah mendarat di Indonesia sejak lebih dari 30 tahun yang lalu. Keberadaan para samurai ini telah membentuk benchmark di pikiran orang Indonesia soal motor yang berkualitas. Tetapi setelah bertahun-tahun dihinggapi oleh mereka mengapa kita belum bisa “mencuri” kemampuan para samurai itu??? Read more…
maap buat bro-bro semua, karena komputer harus rawat inap beberapa hari saya harus absen dari dunia maya buat beberapa hari kemarin….
Bukan saatnya lagi kita bergantung pada kekuatan asing, bukan waktunya lagi untuk jadi sekedar daerah jualan. Indonesia tanah subur penuh sumber daya alam, Indonesia makmur soal hasil buminya. Tapi mengapa sampai jarum pentul saja kita harus impor dari Cina??? (Orator mode:on hihihihi)
Dan juga kita sering disebut sebagai pasar motor terbesar ketiga setelah Cina dan India tapi miris juga membandingkan industri sepeda motor kita yang kalah dari kedua negara tersebut. Yah lihat saja sepak terjang Bajaj-TVS di sini sekarang, juga beberapa tahun lalu dimana mocin berhasil membuat motor Jepang kalang kabut. Read more…
Ah masih ingat dulu pernah tanya-jawab dengan pak pulisi polisi tentang ketentuan belok kiri langsung. Katanya belok kiri di seluruh Indonesia boleh langsung kecuali ada tanda ikuti lampu lalu lintas. Dan memang sih selama ini di jalanan, lajur kiri adalah lajur keramat, kalau di perempatan ndak boleh ditempati kecuali yang mau belok, nekat? Siap-siap aja diklakson dari belakang (atau malah diseruduk).
Sekarang tidak lagi… Read more…
Dan…kalau Edge masih kurang nggereget buat anda dan Ninja 250 ndak cukup buat menuntaskan hasrat…mau coba ER-6n? Sebenarnya sih motor ini di Eropa sana untuk para pemula dan salah satu iklannya bahkan menampilkan cewek sedang nyemplak motor ini. Karena kemudahannya itu barangkali pimpinan Kawasaki Jepang berencana memproduksi motor ini di Thailand…
Ya di Thailand, sama plotnya dengan Ninja 250, ER-6n kemungkinan besar akan didatangkan secara CBU ke Indonesia. Buat info tambahan waktu saya dolan ke PRJ saya mendapat info kalau ER-6n akan diproduksi di Thailand dan harga yang dipatok sekitar Rp 100-110 juta. Tapi menurut berita ini, banderol yang akan dipasang sekitar Rp 130 juta. Read more…
Dulu kita bilang “the big four”-tetapi Kawasaki terlalu underdog hingga seringkali “the big four” kita degradasikan menjadi “the big three”. Tapi sekarang barangkali kita butuh “the big two” karena Suzuki begitu suram keadaannya.
Penjualan total Suzuki sampai semester pertama tahun ini, berdasarkan data AISI adalah 198.116 unit, coba bandingkan dengan Honda dan Yamaha yang berada di atas 1,1 juta unit. Sebagai mantan penguntit Honda di awal 2000-an, prestasi Suzuki kali ini mencerminkan keterpurukan. Read more…
Seperti kontradiksi dengan pernyataan Manager Service Departement Marketing Division PT. Kawasaki Motor Indonesia (KMI), Rusmin Setiawan. Edge seperti dikutip dari detik oto akan dibanderoli Rp 12-13 juta. Namun bila bro semua membaca Motor Plus edisi 17 Oktober 2009, di sana Manager Marketing KMI, Mitsuhiko Okada malah menyatakan bahwa Edge bakal dilepas di angka Rp 13-14 juta.
Weleh… Read more…
Masih nyambung dengan positngan saya yang ini.
Bagaimana posisi Edge dalam melawan Blade dan Jupiter sudah saya bahas di postingan yang terdahulu. Sekarang saatnya kita lihat dua “jagoan” Kawasaki dalam melawan para penguasa bebek 110-115cc.
Kenapa saya tulis “jagoan” (dengan tanda kutip), soalnya Blitz yang diposisikan di bawah Edge sudah lama melempem, ndak ada taringnya. Namanya semakin tenggelam dengan kehadiran Vega, Revo, dan (dulu) Smash.
Sebenarnya sih saya berharap si Blitz ini diganti saja dengan Edge-sepenuhnya. Umurnya sudah layak untuk di daur ulang, butuh suntikan doping lebih. Tapi ternyata Edge diposisikan Kawasaki sebagai pendamping Blitz…hmmm Read more…
Kata Mereka