Valentine Day…Sejauh Mana Kau Cinta? Februari 14, 2008
Posted by fanderlart in Hasil Pemikiran, Refleksi dan Berpikir.Tags: valentine, filsuf, valentinus
trackback
“Ini bukan hari Valentine, ini hari dimana coklat, bunga, dan warna pink lebih eksis”
Apa yang anda kenal dari hari kasih Valentine? Di hari kasih sayang ini setiap orang memberikan ucapan “Selamat Valentine!” sambil terkadang berharap mendapatkan cokelat dari orang yang kita beri salam. Apa lagi? Cokelat yang lebih banyak beredar di kerabat, teman, dan kekasih tentunya. Lalu? Khusus untuk kekasih bisa diberikan seikat bunga yang disertai kartu ucapan yang romantis. Dan semuanya itu digabungkan dengan warna pink yang bertebaran di selebaran, pusat pertokoan, dll.
Tidak salah memang, tidak salah. Tidak salah karena memang begitu keadaannya dewasa ini. Valentine day identik dengan semua itu. Entah orang-orang yang ribut karena tidak dapat cokelat, gadis-gadis yang tersenyum karena mendapat seikat bunga dari pacarnya, promo-promo valentine dari toko-toko, semuanya meriah. Tapi pernahkah anda memikirkan sesuatu tentang hari kasih sayang dengan lebih mendalam?
Kasih sayang di hari Valentine memang identik dengan kasih sayang antar pasangan kekasih atau pasangan suami-istri. Memang sejak awalnya Santo Valentinus yang diperingati hari kematiannya sebagai hari Valentine memperjuangkan hal-hal seperti itu, keterangan lebih lanjut baca link ini en.wikipedia.org. Tetapi apakah kita tidak bisa memodifikasinya dengan konsep saat ini, dengan konsep yang lebih luas?
Cinta apa yang ingin kita tunjukkan di hari kasih sayang? Ingat cinta bukan hanya terbatas pada hubungan pria-wanita! Cinta adalah bahasa universal, cinta adalah sesuatu yang sangat luas. Cinta kita pada pasangan hanyalah sebagian kecil saja. Cinta bisa sesuatu yang luas, cinta dengan sesama manusia, cinta dengan semua makhluk ciptaan Tuhan, dan dari segalanya, cinta dengan alam semesta ini.
Luas bukan? Jadi jangan terpaku pada cinta yang sempit saja. Buatlah cinta-cinta yang lain, dengan sesama, dengan alam sekitar kita. Masih hangat-hangatnya isu global warming, kita bisa menambah cinta kita dengan alam sekitar, lebih memperhatikan kondisi lingkungan. Kondisi kemiskinan di sekitar kita yang menyayat hati, berikan seberkas harapan bagi mereka. Berikan pula rasa cinta sebagai rasa terima kasih pada orang tua, saudara, dan teman-teman kita. Semuanya butuh cinta dan kita berikan cinta kita yang tulus.
Tentunya saya tidak berharap kita hanya memberi cinta di tanggal 14 Februari, justru kita harus bisa memberikannya setiap saat. Hari kasih sayang bisa kita jadikan hari untuk berefleksi, apakah cinta kita sudah cukup bagi sesama dan alam sekitar? Dengan demikian, cinta kita tidak lagi monopoli pasangan kita, cinta kita untuk semuanya.




Komentar»
No comments yet — be the first.